Dalam Latopsfib 2026, TNI AL akan menguji taktik serangan berkerumun (swarming attack) yang menggabungkan dua dimensi serangan: udara dan permukaan laut. Skema ini dirancang untuk membanjiri sistem pertahanan musuh dengan volume tinggi kendaraan nirawak (unmanned systems) berbiaya rendah, menguras amunisi dan mengacaukan prioritas target lawan. Prosedur taktis ini melibatkan peluncuran simultan sejumlah besar drone kamikaze dan USV (Unmanned Surface Vessel) dalam sebuah koordinasi terpusat yang bertujuan menciptakan efek sinergis maksimal.
Skema Serangan Udara: Drone Kamikaze dalam Formasi Otonomi
Tahap pertama operasi swarming attack difokuskan pada serangan udara menggunakan armada drone kamikaze. Drone-dione ini akan diluncurkan secara bersamaan dari berbagai platform, baik dari dek kapal maupun posisi darat yang tersembunyi. Formasi yang digunakan adalah otonomi semi-terkendali, di mana setiap unit diprogram untuk beroperasi secara kolektif namun tetap mampu melakukan manuver individu berdasarkan ancaman yang terdeteksi.
Algoritma dan Prosedur Operasional Drone:
- Peluncuran Massal: Dilakukan dari multiple launch platform untuk mempersulit deteksi titik origin serangan.
- Navigasi Terkendali Jamming: Menggunakan algoritma anti-jamming untuk mempertahankan jalur komunikasi dengan pusat kendali dan menghindari gangguan elektronik musuh.
- Pemetaan Celah Pertahanan: Sistem drone secara kolektif menganalisis pola pertahanan udara musuh dan mengidentifikasi celah atau titik lemah untuk dieksploitasi.
- Penyerangan Berurutan: Drone tidak menyerang secara serentak, tetapi dalam gelombang bertahap untuk terus-menerus menekan dan mengelabui sistem pertahanan.
Dimensi Laut: Prosedur Operasional USV Kamikaze
Secara paralel dengan serangan udara, USV kamikaze akan dikerahkan untuk menyerang target permukaan laut dan infrastruktur pantai. Prosedur operasi USV dirancang dengan empat fase utama yang mengoptimalkan faktor kejutan dan kesulitan intersepsi.
Tahapan Operasi USV Kamikaze:
- Fase Peluncuran: USV diluncurkan dari kapal induk atau posisi pantai yang telah dipersiapkan, memanfaatkan kondisi cuaca dan geografis untuk menyembunyikan keberangkatan.
- Fase Transit Otonom: Navigasi menuju area target dilakukan secara otonom menggunakan waypoint GPS, dengan kemampuan menghindari rintangan dan deteksi pasif.
- Fase Pendekatan Akhir (Final Approach): Begitu masuk dalam jangkauan efektif, USV akan meningkatkan kecepatan ke mode maksimum untuk mempersulit intersepsi oleh sistem pertahanan titik (point defense) kapal musuh.
- Fase Detonasi: Hulu ledak dapat diaktifkan melalui dua moda: kontak langsung dengan target, atau detonasi pada jarak tertentu (proximity fuse) untuk memaksimalkan efek fragmentasi terhadap target berukuran lebih besar.
Integrasi antara sistem udara (drone kamikaze) dan permukaan (USV) merupakan aspek kritis yang diuji dalam Latopsfib 2026. Pusat Komando dan Kendali (K2) akan mengoordinasikan waktu serangan kedua aset nirawak ini untuk menciptakan efek pengepungan multidimensi. Misalnya, serangan gelombang pertama drone dapat difokuskan untuk menarik dan mengikat sistem radar serta pertahanan udara musuh, membuka celah bagi USV untuk melakukan penetrasi dari arah yang berbeda atau kurang terjaga.
Evaluasi latihan akan mencakup tiga parameter utama: keandalan link komunikasi dalam lingkungan elektronik yang padat, akurasi akuisisi target oleh sistem sensor otonom, dan efektivitas doktrin penggunaan massal kendaraan nirawak dalam skenario operasi gabungan. Pelajaran taktis utama yang ingin dipetik adalah bagaimana merancang pola serangan berkerumun yang tidak hanya mengandalkan kuantitas, tetapi juga timing, kecerdasan kolektif sistem, dan sinkronisasi lintas domain (udara-laut) untuk mencapai superiority lokal di titik penyerangan.