Komunitas penggemar simulator militer Indonesia baru-baru ini menggelar latihan virtual berskala besar bertajuk 'Operation Archipelago Shield 2026'. Event ini menggunakan platform DCS World dan Command: Modern Operations untuk mensimulasikan skenario pertahanan udara dan laut di Selat Malaka. Tujuan utamanya adalah menguji prosedur Integrated Air Defense System (IADS) dan koordinasi joint force dalam menghadapi ancaman multidomain.
Struktur Pasukan dan Fase Operasi
Struktur taktis dibagi menjadi dua kekuatan utama: Red Force sebagai agresor dan Blue Force sebagai defender. Blue Force mengoperasikan Airborne Early Warning (AEW) dengan pesawat E-2D Hawkeye untuk mendeteksi target dari jarak jauh. Sistem datalink kemudian mengarahkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dan Rafale ke intercept point yang telah ditentukan. Prosedur ini mengikuti standar Command and Control (C2) yang biasa digunakan dalam latihan nyata.
Selain itu, operator sistem darat SAM mensimulasikan NASAMS dengan tahapan engagement sequence yang ketat:
- Detection: Radar darat mengaktifkan mode pencarian dan menemukan kontak udara musuh.
- Identification: Sistem Identification Friend or Foe (IFF) memverifikasi status target.
- Tracking: Radar melacak pergerakan target secara kontinu dengan parameter kecepatan dan ketinggian.
- Engagement: Setelah konfirmasi hostile, rudal diluncurkan dengan panduan Active Radar Homing.
Domain Laut dan Koordinasi Taktis
Di sisi laut, virtual fleet commander mengatur formasi kapal dengan KRI Raden Eddy Martadinata sebagai flagship. Formasi ini mempraktikkan taktik Anti-Air Warfare (AAW) dengan rudal Aster-15 yang memiliki jangkauan sekitar 30 km. Keunggulan utama dalam skenario ini adalah penggunaan Cooperative Engagement Capability (CEC) yang memungkinkan berbagi data target antar unit secara real-time, mempercepat waktu respons terhadap ancaman.
Komunikasi antar pemain diatur melalui radio simulasi SRS (Simple Radio Standalone) dengan standar brevity code militer seperti 'Fox 3' untuk mengindikasikan peluncuran rudal active radar homing. Setelah misi selesai, sesi de-briefing dilakukan dengan menganalisis ACMI (Air Combat Maneuvering Instrumentation) tape untuk mengevaluasi manuver dan keputusan taktis.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari latihan ini adalah pentingnya integrasi antara DCS World dan Command: Modern Operations dalam menciptakan skenario realistis. Komunitas berhasil membuktikan bahwa latihan virtual mampu menguji prosedur IADS dan koordinasi joint force tanpa biaya operasional tinggi. Bagi penggemar militer, ini adalah contoh bagaimana simulator dapat digunakan sebagai alat pembelajaran taktis yang mendalam.