Dalam rangka memperkuat postur pertahanan siber nasional, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto secara langsung meninjau persiapan latihan perang siber gabungan TNI dan Polri yang akan digelar di Surabaya. Latihan ini dirancang dengan skenario serangan siber skala besar terhadap infrastruktur kritis nasional, mencakup tiga fase taktis utama yang harus dikuasai setiap personel cyber defense. Simak tahapan detailnya berikut ini.
Fase 1: Detection & Analysis — Blue Team Mengawasi Jaringan Real-Time
Pada fase pertama, tim pertahanan siber (Blue Team) dari satuan-satuan cyber TNI dan Polri memantau jaringan secara real-time menggunakan Security Information and Event Management (SIEM) systems. Tujuan utama adalah mendeteksi anomali dan pola serangan sebelum dampak meluas. Prosedur yang dilatih meliputi:
- Monitoring lalu lintas data pada titik-titik kritis infrastruktur pertahanan dan sipil.
- Korelasi log dari berbagai sensor untuk mengidentifikasi indikator kompromi (IoC).
- Peringatan dini dan eskalasi ke pusat komando siber gabungan.
Blue Team harus mampu membedakan antara serangan nyata dan false positive dalam hitungan menit. Simulasi ini menekankan kecepatan respons dan kerahasiaan komunikasi antarsatuan.
Fase 2: Containment, Eradication, dan Koordinasi TNI-Polri
Setelah serangan teridentifikasi, fase kedua dimulai: Containment & Eradication. Tim akan mengisolasi segmen jaringan yang terinfeksi, memblokir alamat IP penyerang (Red Team), dan menghapus malware atau backdoor menggunakan tools forensik digital. Latihan gabungan ini menguji prosedur koordinasi antara unsur TNI (Bais TNI, Pusjianstra TNI AD) dengan unsur Polri (Bareskrim Siber) dengan pembagian peran jelas:
- TNI fokus pada infrastruktur pertahanan dan negara, seperti sistem komando militer dan SCADA pertahanan.
- Polri menangani infrastruktur sipil dan keamanan publik, termasuk server pemerintahan daerah dan sistem perbankan.
Simulasi mencakup serangan DDoS, ransomware pada sistem SCADA, dan upaya phishing targeted. Tim juga melatih kemampuan atribusi serangan, yaitu mengidentifikasi pelaku dan motif melalui analisis digital forensik.
Fase terakhir, Recovery & Fortification, melibatkan pemulihan sistem dari backup yang aman, implementasi patch keamanan, serta penguatan konfigurasi firewall dan Intrusion Detection Systems (IDS). Semua langkah ini dirancang untuk memperkuat ketahanan siber nasional secara berkelanjutan.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya sinkronisasi prosedur dan pembagian peran antara TNI dan Polri dalam menghadapi ancaman siber hibrida. Latihan perang siber gabungan ini membuktikan bahwa cyber defense bukan sekadar urusan teknis, melainkan operasi bersama yang memerlukan koordinasi lintas institusi dan penguasaan deteksi dini, kontainmen cepat, serta pemulihan yang terencana.