Pusat Pendidikan Artileri Pertahanan Udara (Pussenarmed) TNI AD kini memasuki fase taktis baru dalam artileri tidak langsung. Latihan terkini mereka secara instruksional mendemonstrasikan integrasi drone taktis sebagai noda kritis untuk mempercepat siklus tembak, dari deteksi hingga penghancuran. Prosedur ini menggantikan metode konvensional, di mana drone berfungsi sebagai sensor utama untuk pengintaian, penunjukan sasaran real-time, dan validator dampak, menciptakan siklus tembak tertutup yang sangat responsif untuk meriam kaliber 105mm dan 155mm.
Evolusi Prosedur: 'Call for Fire' Berbasis Drone
Operasi dimulai dengan fase akuisisi target yang diperkuat oleh drone. Forward Observer (FO) tradisional kini dipasangkan dengan operator drone yang menerbangkan wahana ke zona sasaran. Tugas utama drone dalam fase ini adalah menyediakan tiga elemen intelijen vital untuk inisiasi call for fire:
- Gambaran Situasi Visual Real-Time: Memberikan FO dan Fire Direction Center (FDC) visibilitas langsung atas medan dan ancaman.
- Identifikasi Positif Target: Membedakan antara konsentrasi kendaraan, posisi infantri statis, atau struktur kunci dengan akurasi tinggi.
- Koordinat Grid Presisi: Menghasilkan data lokasi 8-digit yang merupakan input fundamental bagi perhitungan balistik meriam.
Begitu target terkunci dan divalidasi, prosedur standar call for fire diaktivasi dengan urutan taktis yang telah ditentukan:
- Langkah 1 - Transmisi Data Sasaran: FO atau operator drone mengirimkan permintaan tembak ke FDC. Paket data mencakup koordinat grid, deskripsi target, prioritas, dan metode penunjukan (misalnya, laser designator yang terintegrasi pada drone).
- Langkah 2 - Perhitungan Data Tembak di FDC: Sebagai 'otak' baterai, FDC memproses data masuk untuk menghasilkan firing data komputasional, mencakup azimut, elevasi (untuk lintasan parabola artileri tidak langsung), jenis proyektil, muatan, dan pengaturan sumbu waktu.
- Langkah 3 - Diseminasi dan Persiapan Meriam: Data tembak yang diverifikasi didistribusikan ke setiap meriam (105mm/155mm). Kru meriam melakukan penyetelan azimut, elevasi, dan muatan sebelum melaporkan status 'siap tembak'.
Penyempurnaan Siklus Taktis: Koreksi Real-Time dan Battle Damage Assessment
Kekuatan sebenarnya dari integrasi drone terletak pada fase pasca-tembakan. Setelah tembakan pertama diluncurkan—entah sebagai tembakan penyesuaian atau langsung fire for effect—drone segera beralih peran.
Tanpa jeda, wahana ini dikerahkan untuk melakukan Battle Damage Assessment (BDA) secara real-time. Kamera drone yang tetap mengarah ke zona impak mengirimkan video langsung kembali ke FO dan FDC. Ini menggantikan laporan manual dari pengintai darat yang lambat dan berisiko tinggi.
Berdasarkan hasil BDA visual ini, siklus koreksi presisi dapat dijalankan dengan cepat. Jika tembakan belum tepat sasaran, FO akan memberikan instruksi koreksi melalui jaringan komunikasi terenkripsi menggunakan terminologi standar artileri. Contoh perintah koreksi seperti 'Tambah 100, kanan 50' akan segera diproses oleh FDC untuk menghitung data tembak yang disesuaikan, dan siklus call for fire diulang hingga target dinetralisir. Proses ini secara efektif menutup lingkaran sensor-to-shooter, menciptakan iterasi tembak yang sangat cepat dan mematikan.
Secara taktis, integrasi ini bukan sekadar penambahan teknologi, melainkan perubahan fundamental dalam doktrin. Drone berpindah dari peran pendukung menjadi elemen komando dan kontrol yang menentukan kecepatan dan keakuratan seluruh rantai penembakan. Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa keunggulan di medan tempur modern tidak lagi hanya pada kekuatan proyektil, tetapi pada kecepatan dan presisi siklus pengambilan keputusan—dari pengintaian oleh drone hingga hantaman artileri tidak langsung.