Latihan Terintegrasi TNI 2026 menggelar prototipe doktrin serangan gabungan multi-domain yang diprakarsai oleh pencapaian superioritas udara. Skema ini mengedepankan serangan berurutan dan simultan, di mana keunggulan di satu ranah menjadi landasan untuk mendominasi ranah lainnya, mulai dari udara, darat, laut, hingga siber. Tahap pembuka secara taktis dikhususkan untuk menetralisir pertahanan udara lawan, menciptakan koridor aman bagi operasi lanjutan.
Fase Pembuka: Penindasan dan Penghancuran Pertahanan Udara (SEAD/DEAD)
Untuk mencapai superioritas udara, unsur TNI AU melaksanakan prosedur Suppression of Enemy Air Defenses (SEAD) dan Destruction of Enemy Air Defenses (DEAD). Langkah-langkah operasionalnya terstruktur sebagai berikut:
- Asset Tempur: Dikerahkan pesawat tempur multirole Rafale dan F-16 yang dipersenjatai dengan bom konvensional MK-82.
- Sasaran Primer: Radar musuh dan posisi rudal pertahanan udara yang terdeteksi.
- Efek yang Dicapai: Menghancurkan atau menekan kemampuan deteksi dan penembakan lawan, membuka ruang udara bagi operasi berikutnya.
Setelah ancaman udara tereduksi, operasi khusus oleh Korpasgat diluncurkan untuk mengamankan posisi strategis di belakang garis musuh, menyiapkan titik pijak atau titik gangguan bagi fase serangan darat.
Fase Kombinasi: Serangan Terpadu Darat, Laut, dan Teknologi Baru
Setelah kondisi udara relatif aman, serangan dilanjutkan dengan gelombang serangan terpadu secara simultan dari darat dan laut. Unsur intai darat, termasuk drone tempur, bertugas untuk pengamatan artileri dan penentuan sasaran. Dukungan tembakan langsung diberikan oleh Artileri Medan TNI AD menggunakan howitzer.
Dari laut, dukungan tembakan presisi dijalankan dengan prosedur standar peluncuran rudal C-705 dari Kapal Perang Republik Indonesia (KRI). Prosedur taktisnya melibatkan tiga fase utama:
- Akuisisi Target: Sistem sensor kapal (radar, E/O) mengidentifikasi dan mengunci sasaran darat tetap.
- Pemrograman dan Peluncuran: Data target diprogram ke dalam rudal, diluncurkan, dan menempuh jalur terbang yang telah ditentukan.
- Terminasi Guidance: Rudal melakukan manuver akhir dengan bimbingan onboard untuk menghantam sasaran dengan presisi tinggi.
Tembakan susulan dilaksanakan untuk efek area denial dan penghancuran berlapis. Bantuan Tembakan Kapal (BTK) dari tiga KRI yang berbeda dikombinasikan dengan tembakan artileri roket MLRS dari marinir, menciptakan hujan proyektil yang melumpuhkan area sasaran. Unsur teknologi asimetris yang diuji adalah drone laut otonom atau Unmanned Surface Vehicle (USV) Kamikaze. Prosedur operasinya mencakup peluncuran dari KRI induk, navigasi menuju target kapal permukaan musuh (secara otonom atau dikendalikan jarak jauh), dan akhirnya melakukan kamikaze strike pada titik vital lambung kapir lawan.
Yang menarik, latihan ini juga mengintegrasikan operasi non-kinetik. Serangan siber untuk melumpuhkan instalasi listrik musuh dilancarkan bersamaan dengan operasi konvensional, seperti peranjauan laut dan sabotase bawah air oleh satuan khusus Kopaska. Ini merupakan demonstrasi nyata dari konsep cross-domain operation, di mana efek dari ranah siber, laut, dan darat disinkronkan untuk membebani dan mengacaukan komando serta kendali musuh.
Dari skenario Latihan Terintegrasi 2026, dapat dianalisis bahwa TNI sedang mengasah kemampuan untuk melancarkan serangan komposit yang berlapis dan berurutan. Kunci pelajaran taktisnya terletak pada sinkronisasi efek: serangan udara membuka jalan, artileri darat-laut memberikan tekanan langsung dan penghancuran area, sementara aset asimetris seperti USV Kamikaze dan operasi siber menargetkan kelemahan spesifik dan jaringan logistik musuh. Ini adalah evolusi dari peperangan gabungan konvensional menuju peperangan multidomain yang lebih kompleks dan saling terhubung.