Simulasi CQB yang digelar Indonesian Tactical Enthusiast (ITE) di Surabaya utara pada 10 Agustus 2025 bukan sekadar latihan airsoft biasa. Dengan melibatkan 40 anggota yang dibagi menjadi empat tim assault berkekuatan lima personel, latihan ini dirancang untuk menguji kecepatan reaksi, koordinasi, dan penguasaan ruangan dalam lingkungan urban. Setiap tim mengemban peran spesifik: pointman yang memimpin jalur masuk, support yang memberikan tembakan penekan, serta cover yang mengamankan sektor belakang. Keempat tim bertindak simultan dengan skenario yang telah ditentukan, sehingga eskalasi tekanan dalam simulasi benar-benar terasa. Bedah taktik berikut menguraikan skema prosedural yang mereka terapkan, dari fase pengintaian hingga evaluasi akhir.
Fase Pengintaian dan Skema Formasi: Drone, Pincer Movement, dan Teknik Slicing the Pie
Sebelum menembus gedung, setiap tim melakukan reconnaissance singkat menggunakan drone quadcopter untuk memetakan tata letak ruangan secara digital. Peta digital ini menjadi acuan untuk menentukan titik masuk, potensi hambatan, dan sektor tembak awal. Strategi yang dipilih adalah pincer movement — dua titik masuk sekaligus, yaitu pintu utama dan ventilasi atap — untuk menekan musuh dari dua arah secara simultan. Dengan skema ini, ruang gerak musuh dipersempit dan peluang konsolidasi pertahanan menjadi minimal.
Dalam pelaksanaannya, komunitas ini menerapkan beberapa prosedur taktis yang menjadi standar dalam CQB urban:
- Teknik slicing the pie: Saat mencapai pintu, pointman membuka pintu secara bertahap sambil mengintip ke dalam ruangan dari sisi ke sisi. Metode ini meminimalkan exposure tubuh dan memungkinkan deteksi awal ancaman tanpa membahayakan seluruh tim.
- Formasi T (Tubes) di koridor sempit: Dua personel di sisi kiri, dua di kanan, dan satu di tengah. Formasi ini menciptakan overlapping fields of fire sehingga setiap sudut koridor ter-cover; personel tengah bertugas memberikan tembakan langsung ke sasaran di depan.
- Prosedur emergency reload: Saat kontak dengan musuh simulasi menggunakan airsoft, tim melakukan reload cepat dengan isyarat tangan. Komunikasi non-verbal ini menjaga operasi tetap tenang tanpa kebisingan yang berlebihan.
- Koordinasi radio taktis: Setiap tim menggunakan radio dengan kanal terenkripsi untuk menghindari intersepsi. Seluruh frekuensi dimonitor dari net control station yang mengawasi pergerakan setiap regu.
Penggabungan teknik slicing the pie dan formasi T menunjukkan pemahaman yang baik terhadap prinsip bounded threat. Dalam simulasi ini, pointman tidak pernah membuka pintu secara penuh dan langsung masuk; ia memanfaatkan sudut pandang sempit untuk mengidentifikasi ancaman lebih dulu. Sementara itu, formasi T bekerja optimal pada koridor dengan visibilitas terbatas, karena setiap personel memiliki sektor tembak yang saling tumpang tindih. Hal ini sekaligus melatih kesadaran situasional dan disiplin posisi antaranggota tim.
Evaluasi Hasil Simulasi: Waktu Penguasaan Ruangan vs Risiko Friendly Fire
Hasil akhir simulasi mencatat rata-rata waktu penguasaan ruangan (room clearing) mencapai 90 detik per ruangan. Angka ini menunjukkan efektivitas prosedur yang telah dilatihkan, tetapi ada temuan penting yang tidak bisa diabaikan: 15% kejadian friendly fire akibat kesalahan posisi. Kesalahan tersebut umumnya terjadi ketika personel tidak berada pada jalur tembakan yang benar atau overlapping sektor tidak terkoordinasi antarpersonel. Dalam situasi CQB yang penuh tekanan, kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal — meskipun dalam simulasi hanya berdampak pada tim airsoft.
Ke depan, ITE merencanakan latihan lanjutan di area terbuka dengan skenario urban assault yang lebih kompleks. Simulasi di Surabaya ini membuktikan bahwa latihan taktik yang terstruktur — mulai dari recon drone, pincer movement, hingga teknik slicing the pie — dapat meningkatkan efektivitas tim secara signifikan. Namun pelajaran utama yang perlu dipetik adalah bahwa dalam CQB, kecepatan bukanlah satu-satunya faktor penentu. Ketepatan posisi dan komunikasi adalah kunci untuk meminimalkan risiko friendly fire sekaligus memenangkan pertempuran jarak dekat. Bagi penggemar militer, simulasi komunitas seperti ini menjadi sarana berharga untuk memahami kompleksitas operasi urban sebelum terjun ke skenario nyata.