DOKTRIN
Doktrin Operasi Maritim Komando Armada RI Kawasan Timur: Konsep Sea Denial di Selat dan Choke Points
09 Agustus 2026
Surabaya, Makassar (Wilayah Operasi Koarmada Timur)
11 views
Doktrin Sea Denial Koarmada Timur berfokus pada pengendalian akses laut di choke points strategis seperti Selat Makassar, Selat Lombok, dan Laut Aru. Konsep operasinya berbasis pada layered defensive network. Lapisan terluar adalah Surveillance and Reconnaissance (ISR) menggunakan Maritime Patrol Aircraft (MPA) seperti CN-235 MPA, drone, dan satelit untuk mengidentifikasi dan melacak kapal asing yang mencurigakan. Data ini dikumpulkan di Maritime Operations Center (MOC) untuk menghasilkan Recognized Maritime Picture (RMP).
Lapisan kedua adalah deterrence by presence dan interdiction. Kekuatan utama adalah Kapal Cepat Rudal (KCR) seperti KCR-60M yang dipersenjatai rudal C-705. Prosedur standar adalah shadowing: sepasang KCR mendekati dan mengawal kapal asing, siap berada pada posisi firing bearing jika diperintahkan. Mereka beroperasi didukung oleh kapal korvet seperti kelas Diponegoro yang membawa rudal yang lebih berat. Formasi yang digunakan adalah loose deuce, di mana satu kapal fokus pada engagement sementara yang lain pada sensor coverage dan perlindungan.
Lapisan terdalam adalah area denial menggunakan senjata asimetris. Ini termasuk operasi ranjau laut ofensif oleh kapal penyapu ranjau atau kapal selam untuk menutup akses ke area tertentu. Juga, penggunaan kapal-kapal kecil bersenjata misil (missile boats) dan patroli cepat dalam serangan swarm tactics di perairan sempit. Doktrin ini mengintegrasikan semua elemen dalam satu jaringan komando untuk menolak kebebasan bergerak lawan di wilayah yang ditentukan, tanpa harus mencapai kontrol laut penuh (sea control).
ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: Komando Armada RI Kawasan Timur, Koarmada Timur
Lokasi: Selat Makassar, Selat Lombok, Laut Aru