Exercise ORRUDA 2026 fase laut menampilkan pertukaran taktik maritim tingkat tinggi antara KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dan kapal perusak kelas Sovremennyy Angkatan Laut Rusia. Latihan gabungan ini menguji interoperabilitas langsung dalam skenario kompleks, dengan inti utama pada prosedur penguasaan kapal (VBSS), keakuratan tembakan meriam utama, dan manuver formasi pertahanan laut yang ketat.
Struktur Latihan: Dari Olah Gerak Pelabuhan hingga Simulasi Tempur
Rangkaian latihan diawali dengan prosedur standar Leaving Harbour, sebuah fase kritis yang menguji koordinasi kru dan respons kapal dalam lingkungan pelabuhan yang padat. Setelah keluar dari area aman, kedua satuan langsung masuk ke inti Joint Maneuver Exercise. Dalam fase ini, formasi tempur laut dikerahkan secara sistematis untuk memastikan kedua kapal dapat beroperasi sebagai satu kesatuan tempur. Formasi yang dilatih mencakup tiga skema utama taktis:
- Formasi Kolom: Digunakan untuk transit cepat di jalur laut sempit, dengan kapal pemimpin memandu arah dan kecepatan.
- Formasi Garis Depan (Line Abreast): Diterapkan untuk memperluas jangkauan sensor dan radar pencarian, ideal untuk operasi penyisiran (sweeping) area luas.
- Formasi Lingkaran Pertahanan (Defensive Circle): Sebuah taktik bertahan klasik yang menempatkan kapal saling mendukung untuk mengantisipasi serangan dari segala arah, meningkatkan daya tahan formasi secara keseluruhan.
Dukungan udara dari helikopter Panther TNI AL dan Kamov Ka-28 AL Rusia berperan krusial sebagai force multiplier, memberikan pengintaian jarak jauh, bantuan targetting, dan simulasi dukungan serang dari udara.
Prosedur VBSS dan Uji Tembak Meriam-76: Ujian Kemampuan Maritim Sesungguhnya
Inti dari latihan ini terletak pada simulasi Visit, Board, Search, and Seizure (VBSS), sebuah operasi maritim berisiko tinggi untuk menguasai kapal musuh atau menangani ancaman teroris di laut. Prosedurnya dijalankan dengan tahapan yang ketat dan menguji setiap elemen taktik:
- Penyiapan Tim Boarding: Tim gabungan dari Denjaska/Kopaska TNI AL dan unit setara Rusia disiagakan, dilengkapi persenjataan untuk pertempuran jarak dekat (CQB).
- Pendekatan dan Infiltrasi: Dilakukan dengan dua metode: menggunakan perahu karet berkecepatan tinggi untuk pendekatan rendah dan diam, atau via helikopter (fast-rope/rappelling) untuk serangan kejut dari udara langsung ke dek kapal target.
- Pengamanan Dek dan Pencarian: Tim pertama yang mendarat bertugas mengamankan area pendaratan dan titik akses kritis, memungkinkan tim berikutnya masuk untuk melakukan sweeping ruang demi ruang (room clearing).
- Penguasaan dan Pengendalian: Setelah kru kapal target dinetralkan, tim mengambil alih kendali navigasi, komunikasi, dan ruang mesin kapal.
Sementara itu, latihan tembak meriam utama kaliber 76 mm bertujuan menguji keakuratan dan respons sistem senjata terhadap target permukaan. Latihan ini mensimulasikan engangement jarak menengah, di mana meriam 76 mm berperan sebagai senjata serbaguna untuk menghadapi kapal patroli cepat atau target darat terbatas.
Tidak kalah penting, latihan dilengkapi dengan Counter Action Against UAV Exercise untuk menguji sistem pertahanan udara jarak dekat (CIWS dan MANPADS) terhadap ancaman drone, serta latihan SAR yang mengasah prosedur penyelamatan korban di laut. Kombinasi latihan ini menunjukkan pendekatan komprehensif yang mencakup spektrum ancaman maritim modern, dari asimetris seperti drone hingga konvensional seperti kapal permukaan.
Secara taktis, latihan ORRUDA 2026 fase laut bukan sekadar seremonial. Ini adalah laboratorium nyata untuk menguji doktrin komunikasi lintas bahasa, sinkronisasi manuver, dan prosedur standar operasi gabungan. Pelajaran utama yang dapat dipetik adalah pentingnya standarisasi sinyal dan protokol dalam operasi bersama, serta fleksibilitas tim boarding dalam mengadopsi taktik ruang terbatas yang mungkin berbeda antara kedua negara. Integrasi helikopter sebagai platform VBSS dan pengintaian juga menegaskan pergeseran taktik maritim modern menuju operasi gabungan udara-laut yang lebih terpadu.