Pada 3 Oktober 2026, TNI AL melaksanakan uji coba rudal anti-kapal C-705 dari atas Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter di perairan Laut Jawa—sebuah skenario yang dirancang untuk memvalidasi sistem peluncuran vertikal (VLS) pada jarak tempur 60 km. Bukan sekadar tembak sasaran, uji coba ini mensimulasikan serangan anti-akses terhadap target bergerak di permukaan, yang menuntut koordinasi presisi antara sensor, sistem kendali, dan manuver rudal. Setiap langkah dieksekusi dengan disiplin tinggi untuk menguji keandalan sistem dalam kondisi tempur nyata.
Prosedur Peluncuran dan Sea-Skimming
Tahap awal dimulai dengan akuisisi target menggunakan radar multifungsi yang terintegrasi dengan sistem kontrol tembakan (Fire Control System/FCS). Setelah radar berhasil mengunci target (lock-on), operator melaksanakan peluncuran bertahap rudal dari VLS. Rudal C-705 kemudian segera beralih ke mode sea-skimming—terbang rendah di atas permukaan laut—untuk meminimalkan deteksi radar lawan. Langkah ini krusial dalam peperangan anti-kapal karena mengurangi waktu reaksi pertahanan udara musuh. Proses peluncuran dan transisi ke sea-skimming dilakukan secara otomatis oleh sistem avionik rudal, namun operator tetap memantau parameter ketinggian dan kecepatan melalui panel telemetri di KCR. Beberapa aspek teknis yang diuji dalam tahap ini meliputi:
- Kemampuan radar rudal membedakan target sesungguhnya dari clutter laut.
- Keandalan sistem navigasi inersia (INS) dalam menjaga stabilitas terbang pada ketinggian rendah.
- Waktu respons VLS saat meluncurkan rudal dalam salvo (meski uji kali ini hanya satu rudal).
Setelah berada di lintasan sea-skimming, rudal mempertahankan kecepatan sekitar Mach 0.9 sambil terus menerima koreksi jalur dari FCS melalui data-link. KCR juga mengerahkan sistem decoy elektronik untuk mengelabui rudal lawan dalam skenario simulasi, menguji kemampuan rudal uji dalam mengabaikan sinyal radar palsu yang meniru karakteristik kapal.
Manuver Terminal dan Evaluasi Akurasi
Memasuki fase terminal, pada jarak sekitar 10 km dari target, rudal C-705 melakukan manuver 'pop-up and dive'—mendadak naik ke ketinggian beberapa puluh meter lalu menukik tajam ke arah lambung kapal. Manuver ini dirancang untuk menghindari titik-titik lemah pertahanan titik (point defence) dan mengenai bagian vital kapal. Data telemetri yang direkam menunjukkan akurasi Circular Error Probable (CEP) mencapai 3 meter—angka yang sangat impresif untuk rudal anti-kapal dengan jarak tempuh 60 km. Selain itu, evaluasi juga mencakup uji sistem decoy elektronik yang dikerahkan KCR untuk menguji ketahanan rudal terhadap pengecoh. Keseluruhan uji coba ini merupakan bagian dari program peningkatan kemampuan KCR dalam peperangan anti-akses. Hasilnya memberikan data validasi penting bagi TNI AL untuk mengoptimalkan taktik serangan kapal cepat rudal di masa depan.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik: Kombinasi sea-skimming dan manuver pop-up and dive pada rudal C-705 menciptakan profil serangan yang sulit diintersepsi oleh sistem pertahanan udara kapal lawan. Namun, keberhasilan sangat bergantung pada kualitas data-link dan kemampuan radar dalam membedakan target di tengah clutter dan decoy. Uji coba ini menegaskan bahwa integrasi VLS pada kapal cepat rudal TNI AL semakin matang, membuka peluang untuk serangan presisi dalam skenario anti-akses/area-denial (A2/AD).