Pada simulasi pertahanan pangkalan udara yang digelar di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, ancaman drone swarm menjadi fokus utama latihan. Skenario mengerahkan 20 unit quadcopter musuh yang mendekati apron dan landasan pacu dari berbagai arah secara simultan — sebuah pola serangan yang menuntut respons cepat dan terkoordinasi. Simulasi ini dirancang untuk menguji ketangguhan sistem pertahanan udara pangkalan dalam menghadapi serangan massal kendaraan udara tak berawak (UAV) yang semakin marak digunakan dalam konflik modern.
Tahap Deteksi dan Countermeasure Elektronik
Lapisan pertama pertahanan dimulai dari sistem deteksi. Radar EL/M-2084 yang dimiliki pangkalan bekerja sama dengan optical tracker untuk mengidentifikasi formasi drone pada jarak hingga 5 kilometer. Setelah konfirmasi visual dan elektronik, tim pertahanan segera mengaktifkan countermeasure elektronik berupa jamming GPS dan frekuensi radio. Langkah ini bertujuan memutus jalur kendali drone dari operator musuh, sehingga drone kehilangan navigasi dan perintah. Prosedur ini harus dilakukan dengan presisi agar tidak mengganggu komunikasi pangkalan sendiri. Tahapan deteksi dan jamming ini menjadi kunci untuk memperlambat laju swarm sebelum memasuki area kritis.
Prosedur Netralisasi Fisik: Laser dan Senapan Anti-Drone
Untuk drone yang berhasil lolos dari jamming, lapisan pertahanan berikutnya dikerahkan. Sistem senjata laser tenaga rendah (Laser Weapon System) yang dipasang di atas kendaraan taktis menjadi andalan. Operator menembakkan laser dengan pola scanning horizontal untuk membakar komponen elektronik drone secara bertahap. Metode ini efektif untuk drone yang terbang dalam formasi rapat karena satu sapuan laser dapat mengenai beberapa target sekaligus. Bagi drone yang sudah mencapai area apron, tim gultor (penangkis serangan udara) menggunakan senapan runduk khusus anti-drone yang dilengkapi smart scope. Sasaran tembakan diarahkan ke rotor atau baterai — titik paling rentan pada quadcopter. Setiap penembak dilatih untuk membidik dengan cepat dalam tekanan waktu tinggi.
Selain netralisasi langsung, simulasi ini juga menguji prosedur evakuasi pesawat dari apron menuju shelter bawah tanah. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko kerusakan aset berharga jika swarm berhasil menembus pertahanan. Waktu reaksi total dari deteksi hingga seluruh drone berhasil dinetralisasi tercatat rata-rata 4 menit 30 detik. Angka ini dinilai cukup efektif untuk skala serangan kecil, namun masih perlu ditingkatkan untuk menghadapi swarm yang lebih besar dan lebih kompleks.
Analisis taktis dari simulasi ini menunjukkan pentingnya pendekatan pertahanan berlapis pada pangkalan udara. Kombinasi deteksi elektronik, jamming, senjata laser, dan penembak runduk menciptakan spektrum respons yang mampu menangani berbagai fase serangan. Kelemahan terlihat pada ketergantungan terhadap sistem elektronik yang rentan terhadap spoofing atau serangan siber. Pelajaran yang bisa diambil adalah perlunya diversifikasi sistem pertahanan dan peningkatan kecepatan reaksi agar pertahanan udara pangkalan tetap tangguh menghadapi ancaman drone swarm yang terus berkembang.