TNI Angkatan Udara baru saja menguji coba taktik hunter-killer pair antara drone tempur CH-4 dan pesawat tempur Sukhoi Su-30 dalam skenario operasi pengejaran target bergerak di area latihan Natuna, 12 Agustus 2026. Uji coba ini menjadi langkah awal dalam mengintegrasikan aset udara tak berawak dan berawak secara real-time, sekaligus membuktikan bahwa integrasi antara drone dan Sukhoi mampu meningkatkan efektivitas serangan terhadap sasaran yang sulit dijangkau. Skenario dimulai dengan deteksi radar terhadap kapal cepat musuh yang bergerak di perairan utara, lalu dilanjutkan dengan pengerahan CH-4 sebagai mata-mata di udara.
Tahapan Operasi: Dari Deteksi hingga Serangan Stand-Off
Prosedur baku yang digunakan dalam uji coba ini mengadopsi taktik hunter-killer pair, di mana drone CH-4 berperan sebagai hunter (pemburu) dan Sukhoi Su-30 sebagai killer (pembunuh). Berikut rincian tahapan yang dilakukan:
- Fase 1 – Pengintaian dan Pelacakan: Drone CH-4 diterbangkan pada ketinggian 5.000 kaki untuk melakukan pengintaian berkelanjutan. Dengan sensor optik dan radar, drone melacak jejak target secara real-time, mengirimkan data posisi dan kecepatan ke kokpit Sukhoi melalui data link frekuensi tinggi.
- Fase 2 – Penentuan Titik Optimum: Setelah data target diterima, pilot Sukhoi menghitung titik optimum untuk meluncurkan serangan. Manuver stand-off launch dipilih untuk menjaga jarak aman dari pertahanan udara kapal cepat.
- Fase 3 – Serangan dan Koreksi: Pada jarak 15 km, pilot Sukhoi melepaskan dua roket inersia. Drone CH-4, yang tetap berada di atas area target, berperan sebagai forward observer dan memberikan koreksi tembakan jika roket meleset. Jika target berhasil menghindar, tahap kedua dimulai: drone beralih peran menjadi spotter artileri untuk serangan susulan.
Evaluasi dan Pelajaran Taktis: Delay Komunikasi dan Standarisasi Bahasa
Meskipun uji coba berjalan lancar, evaluasi menyoroti beberapa aspek kritis. Delay komunikasi antara data link drone dan kokpit Sukhoi menjadi perhatian utama, terutama pada fase transfer data tanpa jeda. Komandan Skuadron Udara 11 menekankan pentingnya standarisasi bahasa perintah antara operator drone dan pilot untuk menghindari miskomunikasi pada fase serangan. “Kita harus memastikan bahwa setiap instruksi yang dikirim dari darat ke udara, maupun dari drone ke Sukhoi, memiliki format yang seragam agar tidak membingungkan saat eksekusi,” ujarnya. Ke depan, TNI AU akan menggelar latihan serupa dengan variasi skenario untuk mematangkan prosedur integrasi aset udara ini.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari uji coba ini adalah bahwa integrasi antara drone dan Sukhoi tidak hanya soal teknis perangkat keras, tetapi juga kesiapan mental dan prosedural personel. Kemampuan drone sebagai forward observer memberikan keunggulan taktis signifikan, namun membutuhkan latihan berulang untuk menyelaraskan irama komunikasi. Dengan terus mengasah taktik hunter-killer pair, TNI AU semakin dekat dengan konsep operasi udara modern yang mengandalkan sinergi antara manusia dan mesin tanpa awak.