Kodaeral IV kembali membuktikan paham taktik maritime security operations (MSO) dalam menggagalkan aksi penyelundupan pasir timah di Kepri. Alih-alih sekadar patroli rutin, operasi ini merupakan contoh prosedur responsif berbasis intelijen dan penyisiran terkoordinasi yang melibatkan Lanal Dabo Singkep dan KRI Beladau. Fase pertama dimulai dengan verifikasi informasi aktivitas ilegal di keramba apung Pekajang, Lingga, sebelum tim gabungan diarahkan ke titik koordinat yang terindikasi.
Tahap Penyisiran: Prosedur Investigatif dan Combat Diving
Pada tahap penyisiran, unit bergerak untuk mendatangi lokasi dengan formasi pendekatan investigatif. Tim menemukan dua kapal cepat di area yang sama, sebuah indikasi potensi transaksi illegal. Prosedur pencarian standar dijalankan, dimulai dengan interogasi terhadap pemilik keramba untuk mengonfirmasi informasi awal. Karena barang curian tidak terlihat di permukaan, tim beralih ke metode penyamaran bawah air (underwater concealment).
- Combat Diving: Penyelam tempur diterjunkan untuk memeriksa struktur keramba pada kedalaman 4-5 meter.
- Penyelidikan Bawah Air: Proses penyelaman mengungkap 42 karung pasir timah yang diikat rapat dan sengaja disembunyikan di dasar laut.
- Pengamanan Bukti: Karung-karung tersebut diamankan sebagai barang bukti utama, disertai penangkapan satu tersangka yang terlibat.
Pengembangan Intelijen dan Skema Ship-to-Ship Transfer
Setelah fase pengamanan selesai, operasi memasuki tahap pengembangan. Analisis modus operandi mengungkap skema yang lebih kompleks. Diduga kuat, pasir timah hasil tambang ilegal ini rencananya akan dikirim ke Malaysia menggunakan metode ship-to-ship transfer di tengah laut. Metode ini memungkinkan kapal kecil dari perairan Kepri bertemu dengan kapal besar di zona internasional, menghindari pengawasan di pelabuhan.
Untuk mencegah pola serupa, TNI AL segera mengimplementasikan prosedur pencegahan lanjutan. Patroli rutin di zona perairan vulnerabel ditingkatkan frekuensinya, diperkuat dengan random check yang tidak terprediksi. Koordinasi operasi gabungan dengan Bakamla juga dipererat untuk mengawasi secara ketat lalu lintas kapal menuju perbatasan, membentuk net security yang lebih rapat.
Operasi ini bukan sekadar penangkapan biasa, tetapi pelajaran taktis dalam penerapan MSO. Keberhasilannya terletak pada integrasi cepat antara intel, unsur permukaan (KRI), dan unsur khusus (penyelam tempur). Pola concealment underwater yang dihadapi menunjukkan perlunya prosedur penyelidikan bawah air sebagai standar dalam operasi anti-penyelundupan maritim. Keterampilan combat diving dan kemampuan membaca pola logistik illegal (ship-to-ship) menjadi kunci dalam mengantisipasi ancaman serupa di masa depan, terutama di perairan perbatasan yang rawan seperti Kepri.