Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Cikeusik, Banten, menjadi medan uji taktis bagi Batalyon Infanteri 201 pada 13 Agustus 2026. Fokus utama latihan ini adalah mengasah prosedur pengepungan dan pembersihan (clearance) area permukiman yang dikuasai musuh. Dengan mengadopsi skema manuver tingkat batalyon, latihan ini dirancang untuk mensimulasikan kondisi pertempuran jarak dekat di lingkungan urban, di mana koordinasi dan kecepatan menjadi kunci keberhasilan.
Tahapan Pengepungan: Formasi Baji dan Manuver Jepit
Latihan taktis ini dimulai dengan pembentukan formasi baji (wedge formation) oleh kompi terdepan. Formasi ini dipilih karena kemampuannya membuka celah di garis pertahanan musuh secara agresif dan terstruktur. Setelah celah berhasil diciptakan, tim jepit dari samping segera bergerak untuk menutup rute pelarian musuh. Prosedur ini memastikan bahwa musuh tidak memiliki ruang untuk melakukan perlawanan terorganisir atau mundur ke posisi yang lebih menguntungkan.
Untuk memuluskan manuver jepit, setiap regu dilengkapi dengan granat asap yang digunakan secara simulatif. Granat asap berfungsi untuk menutupi pergerakan pasukan, memecah konsentrasi tembakan musuh, serta memberikan perlindungan visual saat melakukan pengepungan. Komunikasi antar regu dilakukan melalui sinyal tangan dan radio taktis frekuensi rendah, guna menghindari intersepsi dan menjaga kerahasiaan pergerakan.
Prosedur Pembersihan Area: Sweeping dengan Interval Presisi
Setelah zona aman terbentuk dan pengepungan selesai, tahap selanjutnya adalah pembersihan (clearance) area. Tim pembersih melakukan sweeping dengan interval 5 meter antar personel, sebuah standar yang memungkinkan pengawasan menyeluruh tanpa meninggalkan celah bagi musuh yang bersembunyi. Setiap regu bergerak secara sinkron, memeriksa setiap sudut dan bangunan dengan teknik bounding overwatch untuk saling melindungi.
Prosedur teknis yang diterapkan dalam latihan ini meliputi:
- Pembentukan formasi baji oleh kompi depan untuk membuka celah pertahanan musuh.
- Manuver jepit dari samping untuk menutup rute pelarian, didukung granat asap untuk kamuflase.
- Sweeping dengan interval 5 meter antar personel untuk pembersihan area permukiman secara bertahap.
- Komunikasi menggunakan radio taktis frekuensi rendah dan sinyal tangan untuk menghindari intersepsi.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari latihan ini adalah pentingnya disiplin formasi dalam operasi infanteri. Formasi baji dan manuver jepit bukan sekadar teknik tempur, melainkan cerminan dari doktrin TNI AD yang menekankan pada penguasaan ruang secara sistematis. Penggunaan granat asap dan komunikasi frekuensi rendah menunjukkan adaptasi terhadap ancaman intersepsi, yang relevan dalam pertempuran modern di mana perang elektronik menjadi semakin dominan. Dengan latihan semacam ini, Batalyon Infanteri 201 membuktikan bahwa kesiapan tempur bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal pemahaman akan taktik dan prosedur yang tepat.