Dalam simulasi penanggulangan bencana gempa bumi yang digelar Satuan TNI di Kota Padang, prosedur rapid assessment dan evakuasi diterapkan menggunakan metode STOMP (Search, Triage, Organize, Move, Provide). Metode ini dirancang untuk memaksimalkan efisiensi penanganan korban dalam lima tahapan terstruktur, mulai dari pencarian hingga perawatan awal. Simulasi ini menjadi ajang uji prosedur lapangan yang melibatkan koordinasi antara TNI, Basarnas, dan PMI, dengan fokus pada kecepatan respons dan ketepatan triase. Bagi para penggemar militer, memahami alur STOMP ini penting untuk mengukur kesiapan operasi SAR dalam skenario bencana skala besar.
Membedah Tahapan Taktis STOMP: Dari Search hingga Provide
Setiap tahap dalam metode STOMP memiliki prosedur detail yang harus dijalankan secara disiplin. Berikut rincian taktis dari masing-masing tahapan:
- Tahap 1: Search (Pencarian) — Area terdampak dibagi menjadi grid berukuran 100x100 meter. Tim SAR menyisir setiap grid menggunakan alat deteksi suara dan kamera termal untuk menemukan korban yang tertimbun. Setiap titik temuan langsung ditandai dalam peta digital untuk menghindari pencarian ulang. Proses ini memastikan tidak ada area yang terlewat dan mengoptimalkan alokasi sumber daya.
- Tahap 2: Triage (Pemilahan) — Setelah korban berhasil dievakuasi dari reruntuhan, setiap korban diberi tag warna berdasarkan tingkat keparahan:
- Merah: korban kritis yang membutuhkan penanganan medis segera.
- Kuning: korban luka sedang yang masih stabil.
- Hijau: korban luka ringan yang dapat berjalan sendiri.
- Hitam: korban meninggal yang siap dipindahkan ke area identifikasi.
- Tahap 3: Organize (Organisasi) — Koordinator lapangan menetapkan zona aman untuk evakuasi, dibagi menjadi area penerimaan, triase lanjutan, dan titik kumpul. Alur masuk-keluar diatur secara ketat untuk mencegah kemacetan logistik dan medis. Jalur evakuasi alternatif disiapkan jika akses utama terblokir.
- Tahap 4: Move (Evakuasi) — Korban dipindahkan menggunakan tandu improvisasi dari bambu dan tali parasut. Tandu ini ringan, mudah dibawa, dan mampu menjangkau area sempit di antara puing-puing. Setiap tim evakuasi terdiri dari tiga personel yang terlatih untuk mengangkat dan memindahkan korban dengan stabil.
- Tahap 5: Provide (Perawatan) — Setelah korban merah tiba di zona aman, dokter lapangan melakukan pertolongan pertama, termasuk stabilisasi fraktur, pemberian oksigen, dan infus. Korban kuning dan hijau diarahkan ke posko kesehatan untuk observasi lebih lanjut. Simulasi ini juga menguji kesiapan logistik medis, termasuk ketersediaan obat-obatan dan peralatan darurat di titik-titik yang telah ditentukan.
Koordinasi dan Logistik: Kunci Keberhasilan Operasi Lapangan
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari simulasi ini adalah pentingnya fragmentasi area operasi menjadi grid kecil, yang memungkinkan pencarian lebih sistematis dan menghindari duplikasi upaya. Selain itu, penggunaan tandu improvisasi dari material lokal menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, kemampuan adaptasi dan improvisasi menjadi faktor kritis. Koordinasi antarsektor — TNI, Basarnas, dan PMI — juga harus sudah terlatih dalam prosedur komando dan pengendalian bersama (joint C2) agar setiap langkah dari tahap Search hingga Provide berjalan sinkron tanpa hambatan komunikasi.
Dari sudut pandang taktis, metode STOMP mengadopsi prinsip prioritas berbasis triase yang lazim digunakan dalam operasi militer di zona konflik. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan tempur dapat diadaptasi untuk penanggulangan bencana gempa secara efektif. Kecepatan pada tahap Search dan ketepatan pada Triage menjadi penentu utama keberhasilan evakuasi massal. Bagi personel TNI dan relawan, latihan rutin seperti ini wajib dilakukan untuk menjaga naluri respons dalam tekanan tinggi, terutama saat infrastruktur komunikasi lumpuh total.