Pada 25 September 2026, TNI Angkatan Laut menggelar simulasi operasi amfibi di Pantai Lampung yang bertujuan menguji prosedur pendaratan secara menyeluruh. Latihan ini melibatkan dua peleton marinir yang diterjunkan melalui Landing Craft Air Cushion (LCAC) dari kapal pendarat LPD, dengan target waktu penyelesaian seluruh rangkaian hanya 45 menit. Simulasi ini dirancang untuk menguji kecepatan dan koordinasi antarsatuan, bukan sekadar aksi unjuk kekuatan.
Fase pertama dimulai dengan pengintaian jarak jauh menggunakan UAV untuk memetakan kontur pantai dan mengidentifikasi titik pertahanan musuh yang disimulasikan. Setelah data taktis diperoleh, kapal LPD memposisikan diri pada jarak 5 km dari garis pantai. Dari posisi aman tersebut, LCAC diturunkan membawa dua peleton marinir menuju zona pendaratan, memanfaatkan kemampuan bantalan udara untuk melewati rintangan pantai seperti lumpur dan ombak dangkal.
Fase kedua melaksanakan pendaratan dalam tiga gelombang sesuai prosedur operasi amfibi. Gelombang pertama bertugas mengamankan beachhead sebagai jembatan bagi kekuatan berikutnya. Gelombang kedua membawa logistik dan kendaraan taktis untuk mendukung pasukan. Seluruh rangkaian ini menjadi ujian nyata bagi presisi dan koordinasi TNI AL dalam operasi pendaratan amfibi.