Latihan Operasi Amfibi (Latopsfib) 2026 memulai fase eksekusinya dengan prosedur standar namun krusial: Apel Gelar Kesiapan. Di bawah komando langsung Panglima Koarmada RI, Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, ribuan personel gabungan dari elemen elit matra laut—Korps Marinir, Kopaska, Penyelam, dan Penerbang TNI AL—menjalani inspeksi final di Dermaga Madura Koarmada II, Surabaya. Prosedur ini bukan sekadar seremoni; ini merupakan final check sistematis untuk memastikan kesiapan personel dan material sebelum masuk ke fase integrasi tempur yang lebih kompleks. Alutsista seperti kendaraan taktis, tank amfibi BMP-3F, dan peralatan selam canggih menjalani pemeriksaan ketat, mengikuti doktrin komando terpadu yang mensyaratkan semua elemen berstatus ‘go’ sebelum latihan dimulai.
Skema Taktis Bertahap: Dari Pertahanan Pantai hingga Serangan Siber
Rangkaian Latopsfib 2026 dirancang dengan pola latihan bertahap untuk menguji kapabilitas dalam skenario konflik hipotetis yang multi-domain. Tahap pertama berfokus pada operasi defensif dan infiltrasi diam-diam. Prosedur dimulai dengan operasi peranjauan defensif, di mana tim penyapu ranjau membangun zona penyangga di sekitar area pendaratan potensial untuk mengamankannya dari ancaman kapal permukaan atau kapal selam musuh. Langkah ini menjadi pondasi bagi manuver ofensif selanjutnya. Setelah zona aman terbentuk, serangkaian operasi infiltrasi dilaksanakan dengan urutan taktis sebagai berikut:
- Renang Tempur dan Infiltrasi Bawah Laut: Tim Satkopaska melaksanakan cast and recovery—dikirim dari kapal selam atau kendaraan pendukung dan dijemput setelah menyelesaikan misi—untuk menyusup ke garis pantai musuh tanpa terdeteksi.
- Operasi Siber: Paralel dengan infiltrasi fisik, unit peperangan siber TNI AL menggelar operasi ofensif untuk melumpuhkan atau mengganggu jaringan komunikasi dan komando musuh, menciptakan ‘kebutaan’ taktis yang menguntungkan.
- Penembakan Senjata Khusus: Sebagai pendukung infiltrasi, penembak runduk atau tim penembak khusus melaksanakan penembakan presisi dari jarak jauh untuk menetralisir titik-titik pengamatan atau ancaman sebelum serbuan utama.
Puncak Simulasi: Integrasi Drone, USV, dan Serbuan Amfibi Terkoordinasi
Tahap akhir Latopsfib 2026 merupakan simulasi pertempuran gabungan skala besar yang menguji integrasi teknologi tanpa awak (unmanned systems) dengan kekuatan tempur konvensional. Dalam skenario ini, komando terpadu mengawali serangan dengan deployment drone kamikaze untuk melancarkan serangan presisi terhadap posisi komando, baterai rudal, atau radar musuh di garis pantai. Taktik ini bertujuan ‘membuka jalan’ dengan biaya rendah dan risiko minimal bagi personel. Selanjutnya, pertahanan udara diuji melalui Anti Air Rapid Open Fire Exercise (AAROFEX), di mana artileri dan senjata jarak dekat berlatih menembak jatuh sasaran UAV yang mensimulasikan serangan udara musuh.
Momen klimaks latihan amfibi ini adalah serbuan skala besar yang didukung oleh Unmanned Surface Vessel (USV) kamikaze. Prosedur tempurnya terkoordinasi: USV dikerahkan mendahului gelombang pendaratan utama, dikendalikan untuk menabrak atau meledakkan diri di dekat pertahanan pantai musuh—seperti dermaga, pos pengamatan, atau kendaraan lapis baja ringan—untuk menciptakan kekacauan dan melumpuhkan titik perlawanan. Baru kemudian, pasukan amfibi utama, didukung tank amfibi dan kendaraan tempur, melancarkan serangan dari laut ke darat dalam formasi terpadu. Seluruh rangkaian ini dijalankan di bawah sistem komando dan kendali terpusat yang mengintegrasikan umpan balik dari tiga matra (darat, laut, udara) secara real-time.
Latopsfib 2026 bukan sekadar demonstrasi kekuatan, melainkan laboratorium taktis untuk menguji doktrin operasi gabungan TNI AL di era peperangan modern. Poin kunci yang bisa dipetik adalah pentingnya integrasi sistem tanpa awak (drone dan USV) dalam skenario serangan amfibi masa depan. Penggunaan drone untuk serangan presisi awal dan USV sebagai alat pembuka serangan menunjukkan pergeseran taktis dari serbuan massal konvensional ke operasi yang lebih terukur, terkoordinasi, dan meminimalkan korban personel. Latihan ini juga menegaskan bahwa keunggulan dalam komando dan kendali (C4ISR) serta dominasi di domain siber menjadi faktor penentu sebelum kontak senjata fisik bahkan dimulai.