Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
BEDAH TAKTIK

Latihan dan Operasi Anti-Kapal Selam TNI AL di Selat Makassar: Prosedur Deteksi dan Pelacakan

TNI AL menggelar latihan perang anti-kapal selam di Selat Makassar dengan fokus pada prosedur deteksi dan pelacakan kontak. Menggunakan sonar aktif-pasif, cooperative classification, manuver VS, dan passive ranging, kontak kapal selam berhasil ditemukan kurang dari satu jam sesuai standar NATO. Pelajaran utamanya adalah pentingnya integrasi sensor dan manuver taktis dalam menghadapi kapal selam di perairan yang sulit.

Latihan dan Operasi Anti-Kapal Selam TNI AL di Selat Makassar: Prosedur Deteksi dan Pelacakan

Latihan perang anti-kapal selam yang digelar TNI AL di Selat Makassar ini dirancang sebagai simulasi taktis paling mendekati kondisi nyata. Dalam skenario, satu kapal selam asing berperan sebagai musuh, sementara KRI Bung Tomo-357 bersama helikopter anti-kapal selam bertindak sebagai hunter-killer group. Yang menarik dari latihan ini bukan sekadar kemampuan menembak torpedo, melainkan prosedur deteksi dan pelacakan kontak di lingkungan selat dengan arus lalu lintas padat dan kedalaman tidak merata. Bagi pegiat militer, latihan seperti ini adalah kesempatan untuk membedah bagaimana TNI AL menerapkan doktrin anti kapal selam dalam kondisi hidroakustik yang menantang.

Membedah Prosedur Deteksi: Sonar Aktif-Pasif dan Cooperative Classification

Tahap pertama dalam prosedur perang anti-kapal selam adalah mendapatkan kontak. TNI AL tidak langsung mengandalkan satu sensor, melainkan mengombinasikan sonar aktif dan pasif. Sonar aktif memancarkan gelombang suara untuk mendeteksi pantulan dari lambung kapal selam, sementara sonar pasif mendengarkan noise baling-baling dan mesin. Prinsip propagasi suara atau sound propagation menjadi pertimbangan utama. Awak KRI Bung Tomo-357 harus memperhitungkan lapisan SOFAR dan variasi kedalaman dasar laut yang berubah-ubah. Di sinilah aspek taktis terlihat: tim sonar harus memutuskan apakah kontak bisa dideteksi langsung atau melalui ducting layer. Dalam skenario, kapal selam lawan akhirnya ditemukan pada kedalaman 120 meter dengan jarak 3.000 meter dari KRI.

Untuk memastikan bahwa kontak yang tertangkap bukan false contact, awak menggunakan metode cooperative classification. Data sonar digabungkan dengan data ESM dan pola pergerakan kapal selam. Metode ini penting karena di selat yang padat, banyak kontak non-kapal selam yang memiliki kemiripan akustik. Secara ringkas, prosedur deteksi pada latihan ini terdiri atas:

  • Pencarian awal dengan sonar aktif dan pasif secara bergantian;
  • Analisis kondisi hidroakustik, termasuk kedalaman dan lapisan SOFAR;
  • Klasifikasi kontak dengan menghubungkan data sonar, ESM, dan informasi pergerakan;
  • Konfirmasi status kontak sebelum masuk ke fase pelacakan.

Pelacakan Hingga Simulasi Serangan: Manuver VS, Passive Ranging, dan Torpedo MK-48

Setelah kontak dikonfirmasi, KRI Bung Tomo-357 masuk ke tahap pelacakan dan serangan. Manuver yang digunakan adalah kombinasi gerak sirkular dengan kecepatan variabel serta passive ranging. Tujuan dari manuver sirkular ini adalah mengubah sudut datang suara terhadap kapal selam dan memaksa lawan kehilangan track. Sementara itu, passive ranging dilakukan untuk menghitung jarak tanpa memancarkan gelombang yang bisa membocorkan posisi kapal. Dalam simulasi ini, pelacakan dilakukan sambil mempersiapkan penyerangan dengan torpedo MK-48. Namun, alih-alih torpedo sungguhan, tim menggunakan target emulator agar skenario tetap aman.

Tahapan taktis dalam fase ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Melakukan kontak manuver VS untuk mendapatkan posisi yang menguntungkan;
  • Menggunakan passive ranging untuk mengunci jarak dan haluan target;
  • Meluncurkan torpedo MK-48 yang digantikan target emulator;
  • Menguji tindakan penanggulangan lawan, termasuk peluncuran noise maker.

Hasilnya, waktu deteksi kapal selam tercatat di bawah satu jam, sesuai standar doktrin NATO yang diadopsi TNI AL. Evaluasi difokuskan pada waktu reaksi dan akurasi jalur torpedo, dua parameter yang menentukan kredibilitas kapal perang anti kapal selam.

Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya penggunaan sensor berganda dalam perang anti-kapal selam. Taktik yang baik tidak pernah mengandalkan satu sumber data. Dengan menggabungkan sonar, ESM, dan manuver, TNI AL menunjukkan bahwa kualitas kapal selam lawan bukan hambatan utama; sistem prosedur yang benar justru menjadi kunci. Latihan di Selat Makassar ini mengingatkan bahwa peperangan antikapal selam adalah permainan antara dua kekuatan tak terlihat, dan pemenangnya ditentukan oleh siapa yang paling disiplin menjalankan prosedur.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL, NATO
Lokasi: Selat Makassar, Makasar