Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

Latihan CQB di Batujajar: Tahapan Pembersihan Ruangan dari Tim Penindak Pusdikpassus

Simulasi CQB di Batujajar oleh Pusdikpassus menekankan pada tahapan pembersihan ruangan dengan formasi deuce, teknik button hook, dan slicing the pie. Latihan ini membangun muscle memory dan sinkronisasi tim melalui isyarat non-verbal, serta evaluasi menggunakan body camera. Taktik ini esensial untuk meminimalkan risiko dalam pertempuran jarak dekat.

Latihan CQB di Batujajar: Tahapan Pembersihan Ruangan dari Tim Penindak Pusdikpassus

Simulasi pertempuran jarak dekat atau close quarter battle kembali digelar di Batujajar oleh Pusdikpassus. Latihan ini dirancang untuk membedah tahapan pembersihan ruangan secara sistematis, dengan fokus pada kecepatan, presisi, dan sinkronisasi tim. Setiap prajurit dilatih untuk menguasai pergerakan yang tidak hanya efektif secara taktis, tetapi juga efisien dalam waktu reaksi.

Formasi Deuce: Membuka Sudut dan Mengunci Lorong

Simulasi CQB ini dimulai dengan pembentukan dua tim, masing-masing terdiri dari empat personel. Tim melakukan pendekatan lorong menggunakan formasi deuce, di mana dua prajurit terdepan berjalan sejajar sambil membuka sudut pandang 45 derajat ke sisi kiri dan kanan. Sudut ini bukan sekadar posisi; ia menciptakan dua titik pengamatan yang saling melengkapi, sehingga lorong terliput tanpa celah buta. Saat tiba di pintu, prajurit nomor dua mengambil posisi strong wall, menempel pada sisi dinding yang memberikan perlindungan maksimal, sementara prajurit nomor tiga berposisi di sisi sebaliknya untuk mengamankan area di sekitar pintu. Secara teknis, pergerakan tim dalam latihan ini diatur sebagai berikut:

  • Prajurit 1 dan 2 membuka sudut 45 derajat ke kiri dan kanan lorong.
  • Prajurit 2 mengambil posisi strong wall saat mendekati pintu.
  • Prajurit 3 berada di sisi berlawanan untuk mengamankan area depan.
  • Isyarat sentuhan bahu memerintahkan gerakan maju atau berhenti tanpa suara.
  • Keran di helm digunakan sebagai sinyal sebelum pembukaan pintu atau pelemparan granat.

Koordinasi antar-prajurit dijaga melalui isyarat non-verbal. Sentuhan bahu menjadi aba-aba untuk pergerakan maju atau berhenti, sedangkan keran di helm digunakan sebagai sinyal saat akan membuka pintu atau melempar granat. Semua isyarat ini dilatih berulang agar tidak terjadi jeda komunikasi dalam situasi yang bising dan penuh tekanan.

Eksekusi Entry: Button Hook dan Slicing the Pie

Setelah sinyal diberikan, granat kejut diledakkan untuk menciptakan disorientasi pada musuh. Prajurit nomor satu masuk ruangan menggunakan teknik button hook — gerakan memutar pendek yang langsung mengunci sisi dalam pintu. Teknik ini memungkinkan penguasaan area entry tanpa memperlihatkan seluruh badan kepada musuh. Prajurit nomor dua menyusul dengan slicing the pie, yakni membuka ruangan secara bertahap sambil mengekspos area yang sebelumnya tersembunyi. Sudut-sudut ruangan dilipat dengan gerakan pendek dan presisi, dengan aturan utama: senjata selalu mengikuti arah pandang. Ini tidak hanya menjaga laras tetap menghadap target potensial, tetapi juga memastikan reaksi tembakan dapat dilakukan secepat mungkin. Urutan entry dalam simulasi ini dapat dirinci sebagai berikut:

  • Nomor satu masuk dengan button hook, memutar pendek ke sisi pintu.
  • Nomor dua melakukan slicing the pie untuk membuka ruangan secara bertahap.
  • Sudut ruangan dilipat dengan langkah pendek, sementara senjata mengikuti arah pandang.

Evaluasi menjadi fase penting dalam latihan ini. Setiap penerjun memutar rekaman body camera milik masing-masing untuk mengukur waktu reaksi dan meninjau penempatan laras saat menghadapi sudut mati. Hasil analisis ini digunakan untuk memperbaiki manuver pada iterasi berikutnya. Latihan ini menegaskan bahwa CQB bukan hanya soal teknik individual, melainkan sinergi tim yang terbentuk melalui pengulangan prosedur hingga menjadi muscle memory.

Pelajaran yang bisa dipetik dari simulasi Pusdikpassus di Batujajar ini adalah bahwa penguasaan dasar CQB dapat menjadi pembeda antara hidup dan mati dalam operasi nyata. Ketepatan dalam membuka sudut, disiplin dalam isyarat, serta konsistensi gerakan entry adalah elemen yang harus diasah terus-menerus. Dalam dunia taktik militer, detail kecil seperti keran helm atau posisi laras seringkali menentukan keberhasilan misi.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: Pusdikpassus
Lokasi: Batujajar