Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
BEDAH TAKTIK

KRI Bung Tomo-357 Laksanakan Latihan Manuver Taktis Anti-Kapal Selam di Laut Jawa

KRI Bung Tomo-357 melaksanakan latihan manuver taktis anti-kapal selam di Laut Jawa, fokus pada deteksi dan pengejaran menggunakan sonar aktif-pasif. Prosedur inti mencakup pemetaan hidrografi, pola zig-zag 12 knot, dan manuver out of the box untuk menghindari blind spot. Hasil evaluasi — waktu reaksi rata-rata 45 detik — akan digunakan untuk memperbarui taktik tempur di perairan dangkal.

KRI Bung Tomo-357 Laksanakan Latihan Manuver Taktis Anti-Kapal Selam di Laut Jawa

Pada 28 September 2026, KRI Bung Tomo-357, fregat kelas Sigma andalan TNI AL, menggelar latihan manuver taktis anti-kapal selam di perairan Laut Jawa. Latihan ini dirancang untuk mengasah prosedur deteksi dan pengejaran ancaman bawah air dengan memanfaatkan sistem sonar aktif-pasif secara maksimal. Sebagai langkah awal, awak kapal melakukan pemetaan kondisi hidrografi untuk mengidentifikasi lapisan termoklin — lapisan perubahan suhu drastis yang dapat memantulkan atau membiaskan gelombang sonar, sehingga menjadi titik kritis dalam taktik anti-kapal selam di perairan dangkal.

Prosedur Deteksi dan Manuver Pengejaran

Latihan dimulai dengan kapal menerapkan pola zig-zag pada kecepatan konstan 12 knot. Manuver ini bertujuan mengoptimalkan cakupan sonar, meminimalkan blind spot, dan memaksa kapal selam musuh mengungkapkan posisinya. Saat kontak positif terdeteksi, komandan kapal segera memerintahkan manuver 'out of the box' — taktik yang memposisikan KRI Bung Tomo-357 di sektor torpedo musuh yang buta. Tahapan ini meliputi:

  • Pemetaan cepat kontur dasar laut dan lapisan termoklin untuk memprediksi jalur sonar.
  • Penerapan pola zig-zag dengan interval 30 detik untuk menstabilkan akuisisi target.
  • Manuver out of the box saat kontak positif, menggeser kapal 15 derajat dari jalur lurus.

Setelah posisi optimal tercapai, awak melaksanakan prosedur pelepasan sonobuoy dari helikopter onboard. Sonobuoy yang dijatuhkan di sekitar zona kontak mengirimkan data akustik langsung ke Combat Management System (CMS). Sistem ini mengintegrasikan data sonar aktif-pasif, sonobuoy, dan informasi dari kapal selam ramah KRI Cakra yang berperan sebagai pelatih untuk mensimulasikan gerakan musuh. Koordinasi ini penting untuk memastikan data kontak tidak tumpang tindih dan mempercepat proses identifikasi.

Evaluasi Zona Reaksi dan Pembaruan Taktik

Bagian kritis dari latihan ini adalah pengukuran waktu reaksi sejak kontak pertama hingga peluncuran torpedo dekoy. Tim evaluasi mencatat rata-rata waktu reaksi 45 detik — tolok ukur yang menunjukkan kesiapan tempur awak dalam lingkungan perairan dangkal. Manuver ini juga menguji koordinasi dengan KRI Cakra yang bergerak liar untuk mereplikasi taktik kapal selam musuh. Hasil evaluasi akan digunakan untuk memperbarui taktik tempur anti-kapal selam, khususnya dalam menghadapi ancaman di Laut Jawa yang memiliki karakteristik hidrografi unik dengan banyak lapisan termoklin dan kontur dasar laut yang tidak rata.

Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya pemetaan hidrografi sebagai langkah awal sebelum menerapkan manuver sonar. Di perairan dangkal seperti Laut Jawa, kesalahan dalam mengidentifikasi termoklin bisa membuat deteksi gagal total. Selain itu, manuver zig-zag dengan kecepatan konstan 12 knot terbukti efektif untuk menjaga kontak tanpa mengorbankan mobilitas. Latihan ini menegaskan bahwa kesuksesan operasi anti-kapal selam tidak hanya bergantung pada teknologi sonar, tetapi juga pada prosedur standar yang disiplin dan koordinasi lintas platform — dari helikopter hingga kapal selam ramah.