Pada 30 Juli 2025, PT Pindad menggelar uji coba sistem peluncuran rudal anti-pesawat jarak pendek (SHORAD) di Pusat Latihan Tempur Baturaja. Uji coba ini menyajikan simulasi pertahanan udara yang detail, menguji kemampuan sistem dalam melacak dan mengeliminasi target udara pada jarak 20 km. Prosedur dimulai dengan tahap akusisi target, di mana operator mengaktifkan radar pencari dan menangkap sinyal dari pesawat simulasi yang terbang di ketinggian 3.000 kaki. Setelah target terdeteksi, sistem secara otomatis menghitung lintasan optimal dan waktu pembakaran motor roket, sebelum komandan peluncur memberikan kode verifikasi untuk memberikan wewenang tembak. Rudal diluncurkan dalam sudut elevasi 45 derajat, kemudian melakukan manuver koreksi arah secara real-time mengikuti pergerakan target. Sensor infra merah di hulu ledak mengaktifkan proximity fuse pada jarak 10 meter dari target, memastikan fragmentasi hulu ledak optimal. Uji coba ini mencatat kecepatan rudal rata-rata Mach 2,1 dengan jangkauan efektif 12 km, serta akurasi 92% pada target diam dan 85% pada target bergerak dengan manuver acak.
Prosedur Peluncuran: Tahapan Tracking & Verifikasi Tembak
Prosedur peluncuran rudal dalam uji coba ini dirancang untuk meminimalkan kesalahan dan mengoptimalkan efisiensi tempur. Berikut tahapan teknis yang dijalankan:
- Akusisi Target: Operator mengaktifkan radar pencari dengan jangkauan 20 km. Radar menangkap sinyal dari pesawat simulasi pada ketinggian 3.000 kaki, lalu sistem mengklasifikasikan target sebagai ancaman.
- Kalkulasi Lintasan: Sistem komputer menghitung lintasan optimal berdasarkan kecepatan, arah, dan ketinggian target. Waktu pembakaran motor roket disesuaikan agar rudal mencapai kecepatan Mach 2,1 pada jarak tembak efektif 12 km.
- Verifikasi Komandan: Komandan peluncur menerima data dari sistem dan memberikan kode verifikasi wewenang tembak. Ini memastikan bahwa rudal hanya diluncurkan setelah keputusan taktis diambil.
- Peluncuran: Rudal diluncurkan dalam sudut elevasi 45 derajat, menggunakan motor roket solid untuk akselerasi awal. Setelah lepas landas, sistem navigasi inersia dan sensor IR mengarahkan rudal ke target.
- Koreksi Manuver: Rudal secara otomatis mengubah arah mengikuti pergerakan target. Sensor infra merah di hulu ledak mengaktifkan proximity fuse pada jarak 10 meter, memicu fragmentasi hulu ledak untuk memaksimalkan radius ledakan.
Analisis Taktis: Keunggulan & Arah Integrasi Sistem Pertahanan Udara
Data telemetri dari uji coba ini menunjukkan bahwa sistem rudal Pindad memiliki akurasi tinggi, terutama pada target diam (92%). Namun, pada target bergerak dengan manuver acak, akurasi turun menjadi 85%. Ini menandakan bahwa sistem tracking berbasis radar dan IR mampu mengikuti target manuver, meski masih ada ruang peningkatan. Kecepatan rata-rata Mach 2,1 dan jangkauan efektif 12 km memberikan kemampuan intersepsi yang memadai untuk ancaman udara jarak pendek, seperti pesawat tempur atau drone taktis. Tahap berikutnya adalah integrasi dengan sistem komando pertahanan udara batalion, yang akan menghubungkan rudal ini dengan radar peringatan dini dan pusat kendali taktis. Integrasi ini memungkinkan respons yang lebih cepat terhadap ancaman multi-arah dan pengelolaan sumber daya rudal secara efisien. Pelajaran taktis yang bisa dipetik: sistem rudal SHORAD harus diuji dengan skenario manuver ekstrem untuk memastikan keandalan dalam medan tempur nyata. Selain itu, prosedur verifikasi komandan merupakan langkah kritis untuk menghindari kesalahan tembak dan menjaga disiplin dalam rantai komando pertahanan udara.