Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

TNI AU Latih Koordinasi Serangan Udara-Darat dengan Sistem Link-16

Latihan TNI AU ini mendemonstrasikan prosedur taktis integrasi serangan udara-darat berbasis data Link-16, dimulai dari pengiriman data sasaran oleh JTAC hingga eksekusi serangan presisi dengan prosedur 'Type 2 Control'. Interoperabilitas sistem memungkinkan aliran video real-time dari pod targeting pesawat ke command post darat, membangun common operational picture yang krusial untuk efektivitas tempur gabungan.

TNI AU Latih Koordinasi Serangan Udara-Darat dengan Sistem Link-16

Latihan integrasi serangan udara-darat oleh TNI AU kali ini bukan sekadar rutinitas, tetapi demonstrasi nyata bagaimana modernisasi sistem komando dan kendali, khususnya dengan sistem komunikasi data Link-16, mampu memangkas waktu siklus serangan (attack cycle time) dan meningkatkan akurasi secara dramatis. Latihan yang digelar Skadron Udara 14 ini menempatkan Joint Terminal Attack Controller (JTAC) sebagai 'mata dan otak' pengarah di darat, sementara pesawat tempur Sukhoi SU-30 berperan sebagai 'tinju' presisi yang diarahkan dari jarak jauh.

Fase Perencanaan: Mengalirkan Data Sasaran via Link-16

Operasi dimulai jauh sebelum pesawat lepas landas. Di fase perencanaan, koordinasi antara udara dan darat dimulai dengan JTAC yang berada di posisi maju. Ia mengumpulkan data intel target—mulai dari koordinat geografis, jenis sasaran, hingga penanda visual—lalu memasukkannya ke dalam terminal Tactical Air Control Party (TACP). Inilah momen kritis: data tersebut bukan dikirim via suara radio yang rawan salah dengar, tetapi melalui jalur data aman Link-16. Aliran data ini kemudian langsung muncul dan terintegrasi pada display multi-function di kokpit Sukhoi SU-30, memberikan pilot gambaran situasional (situational awareness) yang real-time sebelum mereka bahkan mencapai area operasi.

Eksekusi Serangan: Prosedur 'Type 2 Control' untuk Presisi Maksimal

Dengan data sasaran sudah terpampang di kokpit, pesawat SU-30 melakukan pendekatan taktis dari ketinggian operasional sekitar 15.000 kaki. Proses koordinasi serangan kemudian mengikuti protokol standar NATO yang ketat. JTAC di darat mengambil alih pengarahan menggunakan perintah kode yang telah distandarisasi. Untuk memastikan serangan presisi dan meminimalisir kesalahan target (fratricide), latihan ini menerapkan prosedur 'Type 2 Control'. Berikut tahapannya secara instruksional:

  • Deskripsi Sasaran: JTAC memberikan deskripsi rinci target kepada pilot, mencakup lokasi relatif dari penanda yang diketahui, jenis, dan ciri khasnya.
  • Konfirmasi Visual (Visual Confirmation): Pilot wajib mengidentifikasi dan mengonfirmasi target tersebut secara visual berdasarkan deskripsi yang diberikan sebelum mengunci senjata.
  • Otorisasi dan Peluncuran: Setelah konfirmasi, JTAC memberikan otorisasi akhir. Pilot kemudian melaksanakan serangan dengan senjata presisi yang dipilih.
  • Battle Damage Assessment (BDA): Segera setelah impak, JTAC di darat melakukan penilaian kerusakan tempur (BDA) dan melaporkan hasilnya—'target destroyed', 'damaged', atau 'no effect'—kembali melalui saluran Link-16 yang sama, menyelesaikan satu siklus serangan penuh.

Aspek lain yang diuji dalam latihan ini adalah interoperabilitas sistem. Feed video langsung dari pod targeting (seperti Litening atau Sniper Pod) yang dibawa pesawat SU-30 tidak hanya untuk pilot, tetapi juga dialirkan secara real-time ke command post darat. Hal ini memungkinkan para komandan di pos komando untuk memantau perkembangan serangan secara langsung, meningkatkan pengambilan keputusan taktis, dan memvalidasi laporan BDA dari JTAC.

Dari latihan ini, terdapat pelajaran taktis yang jelas: integrasi sistem seperti Link-16 bukan hanya tentang kecepatan komunikasi, tetapi tentang membangun sebuah common operational picture (COP) yang shared antara udara dan darat. Ini mengurangi kabut perang (fog of war), mempercepat siklus 'find, fix, track, target, engage, assess' (F2T2EA), dan pada akhirnya, meningkatkan survivability pasukan darat sekaligus efektivitas serangan udara. Latihan Skadron Udara 14 dan satuan darat TNI di Baturaja menunjukkan langkah nyata menuju dominasi pertempuran gabungan (joint warfare) yang mengandalkan superioritas informasi.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AU, Skadron Udara 14, NATO
Lokasi: Baturaja, Sumatera Selatan