Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
PERALATAN

TNI AL Uji Tembak Rudal C-705 dari KRI Clurit-641 di Perairan Natuna

TNI AL sukses menggelar uji tembak rudal C-705 dari KRI Clurit-641 di Perairan Natuna. Rudal diluncurkan dengan mode sea-skimming setelah radar mengunci target pada jarak 25 NM, dan melakukan manuver zig-zag tiga fase sebelum warhead meledak tepat sasaran. Data telemetri akan digunakan untuk menganalisis performa rudal dalam kondisi gelombang tinggi.

TNI AL Uji Tembak Rudal C-705 dari KRI Clurit-641 di Perairan Natuna

Pada 4 Oktober 2026, TNI Angkatan Laut menggelar uji tembak rudal permukaan-ke-permukaan C-705 dari Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Clurit-641 di Perairan Natuna. Prosedur taktis dimulai dengan kapal patroli cepat berkecepatan 20 knot menempati posisi yang telah ditentukan. Radar kapal kemudian mengunci target berupa kapal hantu (ghost vessel) yang diposisikan pada jarak 25 nautical mile. Setelah kunci radar stabil dan terkonsolidasi, rudal C-705 diluncurkan dengan mode sea-skimming, yaitu terbang rendah di atas permukaan laut untuk menghindari deteksi radar lawan. Manuver ini merupakan strategi utama untuk meningkatkan kemampuan penetrasi, terutama di perairan terbuka seperti Natuna yang rawan pengawasan.

Prosedur Uji Tembak: Tahapan Penjejakan dan Peluncuran

Proses uji tembak ini dirancang untuk menguji seluruh siklus serangan, mulai dari akuisisi target hingga dampak akhir. Berikut tahapan detail yang dijalankan oleh KRI Clurit-641:

  • Fase Akuisisi: Kapal bergerak dengan kecepatan jelajah 20 knot sambil mengaktifkan radar pencari permukaan. Target ghost vessel terdeteksi pada jarak 25 NM, dan sistem radar secara otomatis melakukan lock-on setelah verifikasi data.
  • Fase Peluncuran: Rudal C-705 diluncurkan dari tabung peluncur vertikal (VLS) atau peluncur miring, tergantung konfigurasi kapal. Segera setelah lepas landas, rudal turun ke ketinggian sea-skimming (sekitar 5-10 meter di atas permukaan laut) untuk menyamarkan jejak radar.
  • Fase Navigasi: Rudal menggunakan panduan inersial (inertial navigation system) pada fase mid-course, kemudian beralih ke radar homing aktif pada fase terminal. Selama perjalanan, rudal melakukan manuver zig-zag untuk mengelabui sistem pertahanan lawan.

Manuver Tiga Fase: Mid-Course, Terminal, dan Impact

Keunggulan rudal C-705 terletak pada pola manuver tiga fase yang terprogram. Pada fase mid-course, rudal terbang dengan jalur zig-zag presisi rendah untuk menghindari intersepsi dini. Memasuki fase terminal, rudal melakukan pop-up maneuver dengan mendadak naik hingga ketinggian 100-200 meter, lalu dive vertikal menuju target. Fase impact adalah saat warhead (hulu ledak) meledak secara tepat pada sasaran. Hasil uji menunjukkan ledakan terjadi persis di titik sasaran kapal hantu, mengonfirmasi akurasi sistem panduan radar homing dalam kondisi gelombang tinggi yang lazim di Perairan Natuna.

Data telemetri yang dikumpulkan selama uji tembak ini akan dianalisis lebih lanjut oleh tim teknis TNI AL untuk mengevaluasi performa rudal C-705, terutama kemampuan sea-skimming dan manuver zig-zag di tengah gelombang setinggi 1-2 meter. Pelajaran taktis yang dapat dipetik: penggunaan mode sea-skimming dan manuver pop-up dive meningkatkan peluang penetrasi terhadap sistem pertahanan lawan yang menggunakan radar pencari permukaan. Keberhasilan uji tembak ini juga menunjukkan bahwa KRI Clurit-641 siap dioperasikan dalam skenario serangan kapal permukaan, baik dalam misi pertahanan pangkalan maupun pengamanan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL, KRI Clurit-641
Lokasi: Perairan Natuna