Pada 8 September 2026, jajaran TNI AL menggelar latihan Pendaratan Amfibi menggunakan LCAC (Landing Craft Air Cushion) di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Latihan ini tidak sekadar unjuk gigi, melainkan uji coba taktis yang dirancang untuk mempersingkat waktu pendaratan dan meningkatkan koordinasi antarsatuan. Dengan pendekatan instruksional, berikut adalah rincian tahapan yang dieksekusi oleh pasukan dalam operasi amfibi modern ini.
Tahap I: Pengintaian dan Penentuan Titik Pendaratan
Setiap operasi pendaratan amfibi yang sukses dimulai dari intelijen medan yang akurat. Pada fase pertama, TNI AL mengerahkan dua alat utama: sonar dan drone bawah air. Sonar digunakan untuk memetakan kontur dasar laut dan mendeteksi rintangan tersembunyi di area pendaratan, sementara drone bawah air melakukan pengintaian visual terhadap gelombang dan struktur pantai. Hasil dari kedua instrumen ini diintegrasikan untuk menentukan titik pendaratan yang paling aman dan efisien bagi LCAC serta Gerakan Pasukan selanjutnya.
- Sonar: Mendeteksi kedalaman air, gundukan pasir, dan ranjau potensial.
- Drone bawah air: Memberikan citra real-time kondisi pantai dan arus.
- Analisis data: Diproses dalam waktu singkat untuk menghasilkan rekomendasi titik pendaratan.
Setelah titik pendaratan ditentukan, kapal induk KRI dr. Soeharso mulai mempersiapkan LCAC untuk diluncurkan. Kecepatan dan presisi menjadi kunci agar musuh tidak sempat bereaksi.
Tahap II: Manuver Pendaratan dan Perlindungan Taktis
Dengan titik pendaratan sudah terpetakan, LCAC diluncurkan dari KRI dr. Soeharso dengan kecepatan jelajah 30 knot. Kendaraan amfibi ini memanfaatkan bantalan udara untuk melaju di atas permukaan air, meminimalkan kontak dengan gelombang dan rintangan. Saat mendekati pantai, kecepatan dikurangi secara bertahap untuk menghindari benturan keras dan untuk memudahkan penurunan ramp depan.
Begitu ramp menyentuh pasir, Gerakan Pasukan dimulai. Pasukan keluar dengan formasi baji—sebuah formasi klasik yang memungkinkan personel menyebar dengan cepat dan saling melindungi. Jarak antarpersonel diatur 10 meter untuk mengurangi risiko terkena tembakan musuh secara beruntun. Seluruh proses pendaratan dilakukan dalam waktu kurang dari 2 menit setelah ramp dibuka.
- Formasi baji: Memberikan sudut tembak yang lebar dan memudahkan komando.
- Jarak 10 meter: Menyeimbangkan mobilitas dan keamanan dari serangan konsentris.
- Perlindungan dari udara: Helikopter Bell 412 memberikan tembakan dukungan dari atas, menekan titik-titik perlawanan di pantai.
Latihan ini juga menguji koordinasi lintas matra: kapal induk sebagai platform komando, LCAC sebagai alat angkut, dan helikopter sebagai pendukung tembakan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa metode ini berhasil mempersingkat waktu pendaratan hingga 15% dibandingkan metode konvensional menggunakan landing craft biasa.
Analisis Taktis: Kecepatan dan presisi adalah dua variabel kunci dalam pendaratan amfibi. Dengan mengintegrasikan pengintaian modern (sonar dan drone) dan kendaraan berteknologi bantalan udara (LCAC), TNI AL mampu menjawab tantangan medan pantai yang tidak terduga. Formasi baji dan perlindungan helikopter memperkuat aspek survival pasukan di fase kritis saat mendarat. Pelajaran yang bisa diambil: keunggulan teknologi harus diimbangi dengan pelatihan taktis yang matang untuk memastikan setiap detik operasi berjalan efisien.