Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
PERALATAN

TNI AL Uji Sistem Peluncuran Rudal C-705 pada KRI Bung Tomo

TNI AL menguji rudal C-705 dari KRI Bung Tomo di Selat Makassar melalui prosedur lengkap, mulai dari akuisisi radar termal, kalkulasi lead angle, hingga manuver terminal snake. Uji tembak ini berhasil mengenai target bergerak 30 knot dan menegaskan integrasi rudal anti-kapal tersebut ke dalam sistem senjata TNI AL.

TNI AL Uji Sistem Peluncuran Rudal C-705 pada KRI Bung Tomo

Uji tembak rudal C-705 dari KRI Bung Tomo di perairan Selat Makassar berlangsung dalam skenario pertempuran realistis. Sasaran yang digunakan adalah target bergerak dengan kecepatan 30 knot, mensimulasikan kapal perang lawan yang mencoba bermanuver menghindar. Prosedur dimulai jauh sebelum rudal meninggalkan tabungnya: operator kapal mengaktifkan radar termal dan melakukan akuisisi target pada jarak 120 km.

Tahapan Uji Tembak: Dari Akuisisi Hingga Terminal

Secara garis besar, prosedur uji tembak ini dirancang untuk menguji seluruh elemen dalam rantai tembakan. Berikut tahapannya:

  • Akuisisi target: radar termal dengan jangkauan deteksi 120 km digunakan untuk menemukan dan mengunci sasaran yang bergerak 30 knot. Operator harus memastikan sinyal target stabil sebelum memasuki tahap berikutnya.
  • Perhitungan fire control: sistem senjata mengkalkulasi lead angle untuk mengompensasi pergerakan target. Nilai ini menjadi acuan titik intersepsi yang terus diperbarui hingga saat peluncuran.
  • Peluncuran: rudal C-705 diluncurkan dengan sudut elevasi 15 derajat menggunakan booster solid. Dorongan awal ini membawa rudal meninggalkan peluncur dengan kecepatan dan ketinggian yang memungkinkan transisi ke fase jelajah.
  • Fase mid-course: rudal bernavigasi menggunakan sistem inersial yang diperbarui dengan data GPS, menjaga jalur terbang tetap akurat menuju area target tanpa bergantung pada seeker sejak awal.
  • Fase terminal: pada jarak 10 km, seeker radar aktif diaktifkan untuk mengunci target secara mandiri. Rudal kemudian melakukan manuver pola snake untuk mengelabui countermeasure yang mungkin dikerahkan lawan.

Setelah rudal mengenai sasaran, data telemetri yang direkam dianalisis untuk mengevaluasi akurasi dan waktu terbang. Parameter ini menjadi tolok ukur utama dalam menilai performa rudal C-705, termasuk sejauh mana sistem inersial dan koreksi GPS bekerja selama fase mid-course.

Analisis Hasil dan Integrasi Sistem Senjata

Hasil uji tembak mencatat rudal berhasil menghantam sasaran yang bergerak dengan kecepatan 30 knot. Data telemetri yang dikumpulkan selama penerbangan kemudian dianalisis untuk mengevaluasi akurasi dan waktu terbang. Keberhasilan ini menjadi pencapaian signifikan dalam uji tembak rudal C-705 dari KRI Bung Tomo.

Dari sudut taktis, uji ini memberikan pelajaran penting. Pertama, radar termal 120 km memberikan waktu reaksi yang cukup bagi operator untuk melakukan kuncian dan perhitungan lead angle sebelum rudal diluncurkan. Kedua, pengaktifan seeker radar pada jarak 10 km merupakan keputusan yang menyeimbangkan antara kebutuhan kuncian akurat dan risiko detection oleh lawan. Terakhir, manuver snake pada fase terminal adalah bentuk pertahanan aktif terhadap pengecoh, yang menguji kemampuan rudal mempertahankan lock-on.

Integrasi rudal C-705 ke dalam sistem senjata KRI Bung Tomo bukanlah akhir dari sebuah program, melainkan awal dari siklus latihan dan pemeliharaan. Bagi prajurit TNI AL, uji tembak adalah momen untuk memvalidasi prosedur, mengasah kecakapan kru, dan memastikan bahwa setiap elemen kapal — radar, fire control, peluncur, hingga awak — bekerja sebagai satu kesatuan. Keberhasilan di Selat Makassar ini adalah bukti nyata kesiapan operasional yang harus terus dijaga.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL, KRI Bung Tomo
Lokasi: Selat Makassar