Pada 8 Oktober 2026, TNI AL menggelar uji prosedur anti-torpedo di Selat Sunda dengan menggunakan kapal perang kelas korvet sebagai platform utama. Prosedur ini dirancang untuk menggagalkan ancaman torpedo yang mendekat dalam waktu kritis—hanya 90 detik sejak deteksi hingga ledakan decoy. Langkah demi langkah taktis dijalankan secara terstruktur, mulai dari manuver kapal hingga aktivasi sistem decoy mobile yang ditarik. Hasilnya, dua dari tiga percobaan berhasil, sementara satu gagal karena kelemahan teknis pada kabel decoy.
Skema Taktis: Manuver Zigzag dan Decoy Mobile
Prosedur anti-torpedo ini dimulai saat sonar pasif kapal mendeteksi torpedo pada jarak 2 km dengan kecepatan 40 knot. Langkah pertama yang dilakukan adalah manuver zigzag—kapal mengubah arah secara cepat dan tidak beraturan untuk mengurangi profil sonar. Tujuannya adalah memperkecil kemungkinan torpedo mengunci kapal utama. Berikut rincian tahapan yang dijalankan:
- Langkah 1 – Manuver zigzag: Kapal perang bergerak membentuk pola 'Z' dengan kecepatan konstan 25 knot. Setiap belokan dilakukan pada sudut 30–45 derajat untuk memaksimalkan penyimpangan sonar.
- Langkah 2 – Aktivasi decoy mobile: Sistem decoy yang ditarik kapal mulai memancarkan sinyal akustik dan magnetik yang meniru tanda tangan (signature) kapal. Decoy ini diprogram untuk bergerak dengan kecepatan 25 knot menjauhi kapal.
- Langkah 3 – Pelepasan asap dan perlambatan: Kapal utama mengeluarkan asap tebal untuk mengurangi visibilitas optik dan inframerah, sekaligus mengurangi kecepatan menjadi 5 knot. Perubahan ini membuat kapal lebih sulit dilacak, sementara decoy tetap bergerak cepat menjauh.
- Langkah 4 – Detonasi torpedo: Torpedo yang tertarik oleh decoy akan meledak pada jarak aman dari kapal. Waktu dari deteksi hingga ledakan tercatat 90 detik.
Taktik ini mengandalkan kerja sama antara kemampuan sonar, kemampuan manuver kapal, dan keandalan decoy mobile. Pada percobaan pertama dan ketiga, semua langkah berjalan mulus dan torpedo berhasil dialihkan.
Evaluasi Teknis: Kegagalan Kabel Decoy dan Rekomendasi Perbaikan
Percobaan kedua gagal karena kabel penghubung decoy mobile putus saat kapal melakukan manuver zigzag yang terlalu tajam. Akibatnya, decoy tidak berfungsi dan torpedo tetap mengunci kapal utama—meski dalam skenario simulasi tidak terjadi ledakan. Setelah uji coba, tim evaluasi TNI AL merekomendasikan dua langkah: pertama, penguatan material kabel dengan serat sintetis bertegangan tinggi; kedua, peningkatan latihan awak untuk membatasi sudut manuver agar tidak melebihi batas toleransi kabel. Kapal perang kelas korvet dianggap memadai untuk mengoperasikan prosedur ini, namun faktor kelelahan kabel menjadi catatan penting.
Secara taktis, keberhasilan prosedur ini membuktikan bahwa sistem decoy mobile yang ditarik masih relevan untuk menghadapi torpedo modern. Kecepatan reaksi 90 detik memberikan waktu sempit bagi awak kapal untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, latihan berulang dan perawatan peralatan menjadi kunci utama dalam menjaga kesiapan tempur. Pelajaran yang bisa dipetik bagi penggemar militer adalah pentingnya redundansi—setiap komponen dalam prosedur anti-torpedo harus diuji hingga batas maksimal untuk mengantisipasi kegagalan di medan sebenarnya.