TNI AL menggelar uji coba doktrin anti kapal selam menggunakan sonar towed array di perairan Selat Malaka pada Rabu lalu, dengan KRI dr. Soeharso sebagai platform utama. Latihan ini dirancang untuk mengasah prosedur deteksi dan penjejakan kontak bawah air musuh secara real-time, mengikuti standar operasi anti kapal selam yang telah ditetapkan. Penekanan utama diberikan pada kecepatan respons dan akurasi identifikasi target, mengingat ancaman kapal selam di jalur strategis Selat Malaka memerlukan kesigapan tinggi.
Prosedur Deteksi dengan Sonar Towed Array: Tahapan Taktis yang Terukur
Latihan diawali dengan deployment sonar towed array dari buritan kapal. Berikut tahapan yang dijalankan secara berurutan dan detail:
- Sonar diturunkan hingga kedalaman 100 meter, sementara KRI dr. Soeharso bergerak pada kecepatan konstan 10 knot untuk mengurangi noise hidrodinamik dan memastikan stabilitas kabel array.
- Data akustik dari array diterima dan dianalisis secara real-time oleh operator sonar di ruang kendali taktis, yang memantau spektrum frekuensi dan pola kontak bawah air.
- Setelah kontak bawah air teridentifikasi melalui passive detection, dilakukan simulasi peluncuran torpedo ringan sebagai langkah penetralan sesuai doktrin anti kapal selam TNI AL.
Prosedur ini memadukan teknik passive detection dengan manuver kapal yang presisi. Kecepatan 10 knot dipilih karena merupakan titik optimal antara stabilitas sonar towed array dan kemampuan manuver untuk menghindari kontak mendadak. Kedalaman 100 meter memungkinkan sonar menangkap profil akustik target di lapisan thermocline, yang sering digunakan kapal selam untuk menyembunyikan jejak sonarnya. Seluruh skenario menguji efektivitas doktrin TNI AL dalam kondisi hidroakustik kompleks.
Analisis Taktis: Kecepatan Respons dan Siklus OODA
Tim evaluasi mencatat waktu respons deteksi di bawah tiga menit sejak sonar diaktifkan hingga kontak bawah air berhasil diidentifikasi. Angka ini menunjukkan efektivitas doktrin yang diuji, terutama dalam skenario ancaman kapal selam yang membutuhkan keputusan cepat. Simulasi peluncuran torpedo ringan juga berjalan sesuai prosedur, memperkuat kesiapan awak kapal dalam rantai komando anti kapal selam. Keberhasilan uji coba ini tidak lepas dari latihan berulang yang dilakukan TNI AL di berbagai medan tempur maritim. Selat Malaka dipilih karena kondisi hidroakustiknya yang kompleks—arus deras, lalu lintas kapal niaga tinggi, dan variasi kedalaman—sehingga menjadi ujian realistis bagi sonar towed array. Data akustik yang terkumpul selama latihan akan digunakan untuk menyempurnakan algoritma deteksi dan basis data suara kapal selam musuh.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya integrasi antara platform permukaan, sensor akustik, dan senjata dalam satu siklus OODA (Observe, Orient, Decide, Act). TNI AL menunjukkan bahwa dengan prosedur yang terstandarisasi, deteksi dini hingga peluncuran torpedo dapat dilakukan dalam hitungan menit. Uji coba ini menegaskan kembali komitmen TNI AL dalam menjaga kedaulatan maritim, khususnya di Selat Malaka sebagai jalur strategis yang rawan ancaman bawah air.