TNI AL resmi menggelar latihan peperangan ranjau di perairan Selat Malaka dengan mengerahkan KRI kelas pemburu ranjau. Latihan ini dirancang untuk menguji kemampuan satuan dalam deteksi, klasifikasi, dan netralisasi ancaman ranjau laut yang dapat mengganggu jalur pelayaran. Prosedur yang dijalankan mengikuti alur operasi penyisiran yang sistematis, dimulai dari pembagian area operasi menjadi sektor-sektor pencarian hingga pembukaan jalur aman bagi kapal yang melintas.
Prosedur Deteksi dan Klasifikasi Kontak Bawah Air
Pada tahap awal, area operasi dibagi menjadi beberapa sektor pencarian. KRI pemburu ranjau bergerak perlahan mengikuti garis patroli yang telah ditentukan, dengan mengandalkan sonar samping dan kendaraan bawah air tanpa awak (ROV) untuk memindai dasar laut. Setiap kontak bawah air yang mencurigakan direkam dan dianalisis oleh tim operasi. Klasifikasi dilakukan dengan membandingkan bentuk, ukuran, dan kedalaman objek—apakah itu batu, bangkai kapal, atau ranjau laut. Seluruh data ini kemudian dikirim ke pusat informasi taktis untuk menentukan langkah netralisasi yang tepat.
- Pembagian area operasi menjadi sektor-sektor pencarian sesuai prosedur;
- Pergerakan KRI pemburu ranjau dengan kecepatan rendah mengikuti garis patroli;
- Pemindaian dasar laut menggunakan sonar samping dan ROV;
- Perekaman setiap kontak bawah air yang mencurigakan;
- Klasifikasi objek berdasarkan bentuk, ukuran, dan kedalaman;
- Pengiriman data ke pusat informasi taktis untuk dianalisis lebih lanjut.
Netralisasi Ranjau dan Pembukaan Jalur Aman
Setelah ranjau laut teridentifikasi secara positif, tim penyelam EOD dikerahkan untuk melakukan identifikasi visual dan memasang alat peledak jika diperlukan. Apabila ranjau yang ditemukan berjenis berpenggerak atau mobile, langkah yang digunakan adalah menjaring dengan cable cutter atau meledakkannya menggunakan charge jarak jauh. Prosedur ini menuntut kehati-hatian tingkat tinggi agar tidak memicu ledakan berantai yang dapat membahayakan kapal maupun personel.
- Pengerahan tim penyelam EOD untuk identifikasi visual objek;
- Pemasangan alat peledak pada ranjau yang telah dikonfirmasi;
- Penggunaan cable cutter atau charge jarak jauh untuk ranjau berpenggerak;
- Pengendalian jarak aman guna mencegah ledakan berantai.
Setelah ranjau dinetralisir, KRI pemburu ranjau melakukan penyisiran ulang untuk memastikan area tersebut benar-benar bersih dari ancaman. Langkah terakhir adalah pembukaan jalur aman yang ditandai dengan pelampung akustik dan sistem navigasi elektronik, sehingga kapal-kapal yang melintas dapat menggunakan rute yang sudah terverifikasi bebas ranjau.
Latihan peperangan ranjau ini menjadi pengingat bahwa Selat Malaka merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Ancaman ranjau laut tidak hanya membahayakan kapal militer, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas keamanan maritim regional. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya penguasaan prosedur penyisiran, klasifikasi kontak yang akurat, serta koordinasi antara KRI pemburu ranjau, tim EOD, dan pusat informasi taktis dalam membuka jalur aman secara cepat dan presisi.