Pada 11 Oktober 2026, TNI AL menggelar simulasi Anti Kapal Selam di perairan Selat Sunda. Latihan ini tidak sekadar unjuk kekuatan; ia merupakan pembedahan prosedur standar dari deteksi hingga penangkalan. Dengan melibatkan KRI berkelas frigat dan helikopter anti kapal selam, simulasi ini menempatkan dua platform utama dalam rantai pemburu kapal selam. Skenario yang dibangun menuntut seluruh awak mengikuti tahapan secara disiplin, karena ancaman bawah air di selat sempit bersifat senyap dan mematikan.
Tahap 1: Membangun Kontak Hidroakustik dari Sonar Hingga Sonobuoy
Prosedur dimulai dengan penyebaran sonar aktif dan pasif oleh KRI. Sonar aktif mengirimkan gelombang suara untuk memantulkan objek, sedangkan sonar pasif mengandalkan deteksi suara bising yang dipancarkan kapal selam. Penggunaan kedua mode ini secara simultan penting dilakukan di Selat Sunda, karena lapisan suhu dan arus yang dinamis dapat menyamarkan target. Prinsip taktisnya sederhana: jangan pernah mengandalkan satu sensor ketika bertugas memburu kapal selam.
Setelah kontak sonar berhasil diperoleh pada kedalaman 150 meter, komando latihan menerjunkan helikopter anti kapal selam. Tugasnya bukan menyerang, melainkan memperkuat data hidroakustik dengan menjatuhkan pelampung sonobuoy. Sonobuoy yang tersebar di sekitar posisi kontak akan menangkap kembali tanda akustik dan mengirimkannya ke pusat data di KRI. Langkah ini penting untuk memastikan kontak tidak hilang saat target mencoba bermanuver mengelak. Koordinasi sensor kapal dan udara menjadi tulang punggung tahap deteksi ini.
Tahap 2: Penangkalan, Torpedo Ringan, dan Pola Zig-Zag
Ketika data kontak sudah dianggap sah dan posisi target dipastikan, tahap penangkalan dimulai. KRI meluncurkan torpedo ringan dari tabung peluncur. Torpedo ringan dipilih karena cocok untuk perairan sempit seperti Selat Sunda, di mana ruang manuver kapal selam terbatas dan jarak tempur tergolong pendek. Setelah torpedo meninggalkan tabung, KRI segera melaksanakan manuver zig-zag. Ini bukan manuver tanpa arah; tujuannya adalah mengubah posisi kapal secara periodik agar tidak menjadi sasaran balasan torpedo atau senjata lain yang mungkin dilepaskan kapal selam.
Secara taktis, manuver zig-zag juga membantu menjaga kebebasan gerak KRI sambil tetap mempertahankan kontak. Awak harus menghitung kecepatan dan sudut belok agar posisi sensor tetap mengarah ke zona kontak. Dalam simulasi ini, TNI AL juga melatih koordinasi KRI dan unsur udara untuk membentuk perimeter antisubmarine sejauh 20 mil. Perimeter tersebut menjamin tidak ada celah bagi kapal selam untuk melarikan diri setelah penangkalan dilakukan.
Rangkaian Prosedur dalam Simulasi
Secara ringkas, tahapan yang dilatihkan adalah sebagai berikut:
- Penyebaran sonar aktif dan pasif oleh KRI untuk mendeteksi kapal selam di perairan Selat Sunda.
- Konfirmasi kontak sonar pada kedalaman 150 meter.
- Penerjunan helikopter anti kapal selam untuk menjatuhkan pelampung sonobuoy dan memperkuat data hidroakustik.
- Peluncuran torpedo ringan dari tabung peluncur KRI sebagai tahap penangkalan.
- Manuver zig-zag untuk menghindari kemungkinan serangan balik.
- Koordinasi KRI dan unsur udara dalam membentuk perimeter antisubmarine sejauh 20 mil.
Analisis Taktis: Kunci Keberhasilan Ada pada Rantai Sensor
Simulasi TNI AL di Selat Sunda ini menegaskan bahwa operasi Anti Kapal Selam adalah kerja rantai sensor dan senjata yang tidak boleh terputus. Kontak pada kedalaman 150 meter bisa terjadi hanya dalam hitungan menit, namun jika data tidak diperkuat sonobuoy, maka sasaran bisa kabur sebelum torpedo diluncurkan. Demikian pula setelah penangkalan, KRI tidak boleh berhenti bergerak; manuver zig-zag adalah bentuk ketahanan awak terhadap serangan balik. Pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa keberhasilan penangkalan kapal selam tidak ditentukan oleh satu sensor canggih, tetapi oleh disiplin prosedur dan koordinasi multi-platform sejak kontak pertama hingga perimeter terbentuk.