Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

TNI AL Gelar Latihan Anti Kapal Selam dengan Teknik Barrage Sonar di Selat Sunda

TNI AL menggelar latihan anti kapal selam di Selat Sunda menggunakan teknik Barrage Sonar yang menggabungkan sweeping sonar aktif pola zig-zag oleh KRI Bung Tomo-357 dan grid sonobuoy dari helikopter AS565 Panther. Integrasi multistatic sonar memungkinkan posisi presisi kapal selam musuh dalam waktu singkat, diikuti serangan mortir yang meledak 10 meter di atas target. Latihan ini menekankan sinkronisasi tri-matra dan prosedur evakuasi, menjadi contoh taktis operasi AKS modern di perairan sempit.

TNI AL Gelar Latihan Anti Kapal Selam dengan Teknik Barrage Sonar di Selat Sunda

Pada 11 September 2026, Pangkalan TNI AL Lampung menggelar latihan anti kapal selam (AKS) di perairan Selat Sunda yang dikenal rapat dengan lalu lintas kapal niaga dan tantangan akustik tinggi. Skenario yang diusung adalah penyusupan kapal selam musuh di kedalaman 50 meter — sebuah skema yang memaksa kru permukaan dan udara untuk bekerja dalam harmoni taktis. Latihan ini tidak sekadar rutin, melainkan menjadi ajang validasi teknik Barrage Sonar yang menggabungkan sonar aktif dan pasif dalam satu manuver terkendali.

Tahap Pertama: Sweeping Sonar Aktif Pola Zig-Zag

Langkah awal dimulai dengan KRI Bung Tomo-357 — frigat kelas Diponegoro — yang melaksanakan sweeping sonar aktif dengan pola zig-zag. Pola ini sengaja dipilih untuk menutup celah deteksi di area tertentu, mengingat Selat Sunda memiliki kontur dasar yang bervariasi dan arus kuat. Begitu kontak terdeteksi, KRI Bung Tomo segera memposisikan diri tegak lurus terhadap jalur kapal selam. Dalam taktik AKS, posisi ini memaksimalkan energi sonar yang dipantulkan, karena sudut pantul paling optimal terjadi ketika kapal permukaan berada pada azimuth 90 derajat terhadap target. Teknik ini memastikan signal-to-noise ratio tinggi sehingga kontak tidak mudah hilang di antara clutter sonar.

Tahap Kedua: Grid Sonobuoy dan Integrasi Multistatic

Setelah kontak stabil, giliran unsur udara turun tangan. Dua helikopter AS565 Panther yang dioperasikan dari pangkalan darat menebar sonobuoy pada titik-titik dengan jarak 200 meter membentuk grid. Berikut rincian tahapan yang dilakukan:

  • Helikopter pertama menyebar sonobuoy pasif di perimeter utara, sementara helikopter kedua menempatkan sonobuoy aktif di sisi selatan — menciptakan jaring deteksi dua arah.
  • Setiap sonobuoy diprogram untuk mentransmisikan data hidroakustik secara real-time ke pusat komando di KRI Bung Tomo.
  • Data dari multistatic sonar — menggabungkan sumber suara dari helikopter dan kapal — diintegrasikan di pusat komando untuk mendapatkan posisi presisi kapal selam musuh melalui triangulasi silang.
  • Proses integrasi ini memakan waktu kurang dari 2 menit, berkat sistem pertempuran digital yang terhubung dengan Link-Y (varian Link-11 milik TNI AL).

Begitu koordinat dipastikan dalam lingkaran kesalahan kurang dari 50 meter, kapal frigat meluncurkan mortir anti kapal selam (sejenis RBU-6000) dengan waktu tunda yang telah dihitung agar meledak pada kedalaman 10 meter di atas kapal selam. Kedalaman detonasi ini sengaja dipilih untuk menciptakan tekanan kejut maksimal tanpa perlu langsung mengenai lambung, memanfaatkan efek kavitasi air.

Selain unsur ofensif, tim AKS juga melatih prosedur evakuasi awak kapal selam yang pura-pura mengalami kerusakan. Dalam skenario ini, helikopter Panther berperan menurunkan rakit karet dan tim penyelamat ke titik kontak. Latihan ini menekankan sinkronisasi antara unsur udara, permukaan, dan bawah air — sebuah tuntutan mutlak dalam perang anti kapal selam modern di Selat Sunda yang sempit dan padat.

Analisis taktis: Latihan ini menyoroti pentingnya Barrage Sonar sebagai taktik kontemporer yang mengatasi kelemahan sonar tunggal. Dengan menyebar sonobuoy dalam grid, TNI AL mampu membangun gambar situasi bawah air yang hampir real-time. Pelajaran bagi penggemar militer: kecepatan integrasi data dan posisi kapal yang tepat (tegak lurus) menjadi faktor kunci dalam mempertahankan kontak terhadap kapal selam yang gesit. Teknik ini layak menjadi acuan bagi latihan AKS di perairan strategis lain, seperti Selat Malaka atau Laut Jawa.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL, Pangkalan TNI AL Lampung, KRI Bung Tomo-357
Lokasi: Selat Sunda, Lampung