Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

Skema Pertempuran BVR dan WVR dalam Simulasi Tempur Udara TNI AU: F-16 Fighting Falcon vs Su-27 Flanker

Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi menguji skema pertempuran BVR dan WVR antara F-16 Fighting Falcon dan Su-27 Flanker dalam simulasi tempur. Tahap BVR mengandalkan radar AN/APG-68, AIM-120, manuver notch, dan R-77, sementara tahap WVR diwarnai Fowler flap, High-G turn, serta helmet-mounted cueing system. Simulasi ini mencatat parameter kinerja manuver dan hit probabilitas sebagai bahan evaluasi doktrin.

Skema Pertempuran BVR dan WVR dalam Simulasi Tempur Udara TNI AU: F-16 Fighting Falcon vs Su-27 Flanker

Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi menggelar simulasi tempur udara yang mempertemukan dua andalan taktis berbeda: F-16 Fighting Falcon dengan radar AN/APG-68 dan Su-27 Flanker dengan kemampuan manuver baku. Simulasi ini tidak sekadar uji terbang, melainkan skema pertempuran utuh yang menguji taktik BVR dan WVR dalam satu alur skenario. Tahap demi tahap dirancang untuk mengukur bagaimana pilot membaca situasi, memecah kunci radar, lalu bertransisi ke pertarungan jarak dekat. Hasilnya, tercatat parameter kinerja manuver dan hit probabilitas dari perangkat lunak simulasi.

Dari awal, skenario telah menempatkan kedua pesawat dalam jarak jauh. Ini adalah fase di mana rudal berpandu radar dan kemampuan elektronik menjadi penentu siapa yang lebih dulu menembak. Simulasi tempur ini menegaskan bahwa pertempuran udara modern tidak lagi bergantung pada kecepatan semata, tetapi pada kemampuan mengelola informasi dari sensor, mengunci lawan sebelum lawan mengunci kita, dan melakukan pengecoh taktis yang tepat.

Tahap BVR: Deteksi 120 Kilometer, Manuver Notch, dan R-77

Pada fase BVR, pilot F-16 menjadi pihak yang lebih dulu membuka manuver. Radar AN/APG-68 yang diandalkan Fighting Falcon berhasil mendeteksi target pada jarak 120 kilometer. Begitu kontak radar terkunci, pilot meluncurkan AIM-120 AMRAAM, rudal beyond visual range dengan panduan radar aktif. Prosedur ini dilakukan secara berurutan sesuai skema:

  • F-16 mengaktifkan radar AN/APG-68 dalam mode pencarian jarak jauh dan mendeteksi Su-27 pada 120 km.
  • Setelah kontak stabil, pilot mengunci target dan menembakkan AIM-120 AMRAAM dari posisi yang memungkinkan rudal meluncur dengan optimal.
  • Su-27 merespons dengan manuver notch, mengubah arah terbang secara tajam untuk memperkecil kecepatan radial relatif terhadap radar F-16 sehingga kunci radar menjadi pecah.
  • Setelah berhasil memecah kunci radar, Su-27 meluncurkan R-77 untuk membalas serangan.

Manuver notch ini adalah teknik standar untuk melawan radar pulse-Doppler. Dengan terbang tegak lurus terhadap arah gelombang radar, kecepatan relatif pesawat mendekati nol. Filter doppler pada radar AN/APG-68 akan menganggap target sebagai objek diam dan kehilangan kontak di tengah clutter. Keputusan Su-27 untuk segera meluncurkan R-77 setelah notch menunjukkan skema efektif: sekali kunci radar lawan gagal, giliran lawan yang harus bertahan. Namun, pertempuran tidak berhenti di sini. Setelah pertukaran tembakan BVR usai, kedua pesawat beralih ke fase WVR.

Transisi ke WVR: Fowler Flap, High-G Turn, dan Helmet-Mounted Cueing

Memasuki jarak pandang, kedua pesawat mulai mengurangi kecepatan dan bertempur secara manuver. Skema dogfight dimulai dengan penggunaan Fowler flap untuk memperlambat laju pesawat secara signifikan. Secara teknis, Fowler flap menghasilkan lift tambahan sekaligus meningkatkan drag. Inilah yang memungkinkan pesawat mempertahankan ketinggian pada kecepatan rendah, sekaligus membuka peluang melakukan manuver dogfight yang lebih agresif. Berikut alur taktis yang diuji dalam simulasi:

  • Pilot mengurangi kecepatan dengan menurunkan Fowler flap untuk memperpendek radius belokan dan mengatur energi pesawat.
  • Setelah kecepatan stabil, dilakukan High-G turn tajam untuk masuk ke sudut tembak lawan.
  • Kedua platform menggunakan helmet-mounted cueing system untuk mengunci roket jarak dekat tanpa perlu mengarahkan hidung pesawat sepenuhnya.
  • Parameter kinerja manuver dan hit probabilitas direkam melalui perangkat lunak simulasi untuk dievaluasi pasca-latihan.

Pada fase ini, helmet-mounted cueing system menjadi pembeda utama taktik WVR. Pilot cukup menoleh ke arah target, sensor di helm akan mengunci sasaran dan mengarahkan roket jarak dekat ke posisi bidik. Kemampuan ini memperpendek waktu exposure dalam manuver dogfight, karena pilot tidak perlu lagi membawa seluruh pesawat ke arah lawan. Simulasi tempur ini menunjukkan bagaimana doktrin penguncian termal berkembang dari mengandalkan posisi hidung menjadi mengandalkan kepala pilot.

Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari skema ini adalah pentingnya pengelolaan transisi BVR menuju WVR. Setiap tahap menuntut pembacaan situasi yang cepat: apakah notch berhasil memecah kunci, kapan melepas rudal R-77, seberapa besar energi yang tersisa untuk melakukan high-G turn, dan kapan memanfaatkan helmet-mounted cueing system. Penggabungan semua parameter itu dicatat oleh perangkat lunak simulasi, sehingga setiap keputusan di kokpit dapat diukur. Bagi penggemar militer, keseimbangan antara kecanggihan sensor dan keberanian manuver dogfight adalah kunci penguasaan pertempuran udara modern.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AU, Skadron Udara 3
Lokasi: Lanud Iswahjudi