Simulasi tempur anti-kapal selam yang digelar TNI AL di perairan Selat Sunda pada 19 Agustus 2026 menguji secara langsung prosedur deteksi, analisis, dan serangan terhadap kapal selam tipe 209 buatan Jerman. Latihan laut ini melibatkan KRI Banda Aceh dan KRI Sultan Iskandar Muda sebagai unit permukaan, serta satu kapal selam dari satuan bawah air yang berperan sebagai target. Dengan mengadopsi skema pertempuran jarak menengah, latihan ini dirancang untuk menyempurnakan koordinasi antar KRI dalam menghadapi ancaman bawah air yang nyata.
Tahapan Deteksi dan Analisis Harmonik
Prosedur diawali dengan deteksi akustik menggunakan sonar aktif dan pasif yang dipasang pada kedua KRI. Sonar aktif mengirimkan gelombang suara dan menangkap pantulannya, sementara sonar pasif mendengarkan kebisingan kapal selam target. Setelah kontak diperoleh, tim operasi segera melakukan analisis harmonik untuk menentukan jarak, kedalaman, dan kecepatan kapal selam. Langkah-langkah deteksi dirinci sebagai berikut:
- Mengaktifkan sonar aktif pada frekuensi rendah untuk menjangkau jarak jauh, namun tetap waspada terhadap kemungkinan deteksi balik oleh kapal selam.
- Menggunakan sonar pasif untuk mengidentifikasi profil akustik kapal selam tipe 209, termasuk suara baling-baling dan mesin diesel-electric.
- Menganalisis informasi harmonik (doppler shift, time delay) untuk mengkalkulasi posisi target secara tiga dimensi.
Setelah data kontak terverifikasi, kapal permukaan mulai melakukan manuver untuk mengoptimalkan posisi serangan. Formasi yang digunakan adalah formasi kotak dengan jarak antar KRI 5.000 yard, memungkinkan cakupan sonar yang saling tumpang tindih dan meminimalkan blind spot.
Manuver Serangan dan Pelepasan Torpedo
Ketika posisi target sudah tepat, tim operasi memerintahkan pelepasan torpedo tipe A244S dengan kedalaman 50 meter. Torpedo ringan ini dipilih karena kemampuannya dalam mengejar target dengan sistem homing akustik aktif/pasif. Setelah pelepasan, KRI segera melakukan taktik menghindari serangan balik dengan menjalankan pola zig-zak dan melepaskan decoy akustik. Detail taktik serangan:
- KRI Banda Aceh dan KRI Sultan Iskandar Muda bergerak membentuk sudut 45 derajat terhadap arah target untuk memaksimalkan sudut serang torpedo.
- Pelepasan torpedo dilakukan secara sinkron untuk menciptakan pola pengejaran ganda, meningkatkan kemungkinan hit.
- Setelah torpedo dilepas, kapal segera melakukan manuver evasif dengan kecepatan tinggi dan mengeluarkan decoy akustik (seperti noisemaker) untuk mengelabui torpedo balik kapal selam.
Simulasi ini diakhiri dengan evaluasi hasil tembakan menggunakan data rekaman sonar. Panglima Armada menekankan pentingnya koordinasi antar KRI, terutama dalam berbagi data kontak dan sinkronisasi manuver. Latihan laut anti-kapal selam ini membuktikan bahwa TNI AL terus meningkatkan kesiapan operasionalnya dalam menghadapi ancaman bawah air yang semakin kompleks.
Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah bahwa keberhasilan dalam operasi anti-kapal selam sangat bergantung pada kecepatan analisis harmonik, pemilihan formasi yang tepat, serta kemampuan untuk segera beralih dari mode deteksi ke mode serangan tanpa jeda. Koordinasi real-time antara dua KRI dan penggunaan decoy akustik menjadi faktor kunci yang membedakan latihan ini dari simulasi biasa.