Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

Simulasi Pertempuran Jarak Dekat (CQB) oleh Marinir di Surabaya: Teknik Ruangan dan Koridor

Simulasi CQB oleh Batalyon Infanteri 1 Marinir di Surabaya menekankan prosedur pembersihan ruangan dengan formasi stack dan teknik pie slicing, dilanjutkan manuver combat glide di koridor. Sistem laser tag digunakan untuk mengukur efektivitas kontak, dengan 5 kali pengulangan skenario yang bervariasi. Pelajaran utamanya: kemenangan dalam CQB bergantung pada disiplin prosedur, pembagian sektor tugas, dan kemampuan adaptasi tim.

Simulasi Pertempuran Jarak Dekat (CQB) oleh Marinir di Surabaya: Teknik Ruangan dan Koridor

Simulasi Close Quarters Battle (CQB) yang digelar prajurit Batalyon Infanteri 1 Marinir di gedung latihan Surabaya pada 11 Oktober 2026 menguji prosedur pembersihan ruangan dan koridor secara bertahap. Bukan sekadar unjuk fisik, simulasi ini menuntut kecepatan, presisi, serta koordinasi ketat antar personel dalam skenario pertempuran jarak dekat. Fokus utamanya adalah membedah urutan taktis — mulai dari formasi stack di depan pintu, teknik pie slicing untuk membuka sudut pandang, hingga manuver combat glide di koridor yang rawan penyergapan.

Prosedur Pembersihan Ruangan: Formasi Stack dan Teknik Pie Slicing

Tahap awal simulasi dimulai dengan pembentukan formasi stack di depan pintu ruangan target. Tim beranggotakan empat personel bergerak dalam satu garis lurus di belakang personel pertama, menjaga jarak aman untuk menghindari tembakan ramah saat pintu dibuka. Formasi ini memastikan setiap anggota memiliki sektor tugas yang jelas tanpa tumpang tindih bidikan, sehingga seluruh sudut ruangan dapat dikendalikan secara sistematis. Pembagian peran dilakukan sangat ketat:

  • Personel pertama bertugas membuka pintu dan melangkah masuk dengan teknik pie slicing, yaitu memeriksa sudut ruangan secara bertahap dengan gerakan memutar dari luar ke dalam.
  • Personel kedua dan ketiga langsung masuk setelah pintu terbuka, masing-masing mengamankan sisi kiri dan kanan untuk menutup titik buta yang tidak terjangkau personel pertama.
  • Personel keempat menjaga belakang, memastikan tidak ada ancaman yang menyusup dari koridor saat tim fokus pada ruangan.

Urutan ini bukan tanpa alasan taktis. Teknik pie slicing dipilih karena memungkinkan personel pertama memeriksa area yang sebelumnya tidak terlihat tanpa mengekspos seluruh tubuh ke garis tembak musuh. Sementara itu, pengamanan sisi kiri dan kanan oleh personel kedua dan ketiga dilakukan secara sinkron agar sudut-sudut ruangan langsung ter-cover dalam hitungan detik. Dengan pembagian peran yang ketat, risiko terkena tembakan dari dalam ruangan dapat ditekan seminimal mungkin.

Manuver Koridor: Combat Glide dan Simulasi Laser Tag

Setelah ruangan dinyatakan aman, tim bergerak ke koridor berikutnya. Di sinilah formasi combat glide digunakan. Berbeda dengan stack yang rapat di depan pintu, combat glide membuat personel bergerak dengan langkah menyamping dan posisi senjata siap — profil tubuh diperkecil agar tidak mudah dijadikan sasaran. Koridor adalah area paling berbahaya di lingkungan CQB karena minim perlindungan, sehingga setiap pergerakan harus diperhitungkan dan interval antar personel dijaga agar tidak saling menghalangi bidikan.

Untuk mengukur efektivitas prosedur ini, setiap kontak dengan musuh disimulasikan menggunakan sistem laser tag. Teknologi ini memberi umpan balik instan bagi personel — apakah terkena tembakan atau berhasil melumpuhkan target. Latihan diulang sebanyak 5 kali dengan variasi tata letak ruangan dan jumlah musuh. Variasi ini penting untuk melatih adaptasi tim terhadap kondisi yang tidak terduga, bukan sekadar menghafal pola gerak.

Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari simulasi Marinir di Surabaya ini adalah bahwa kemenangan dalam CQB tidak ditentukan oleh agresivitas semata, melainkan oleh penguasaan prosedur baku yang dieksekusi dengan disiplin. Setiap langkah — dari pie slicing hingga combat glide — dirancang untuk meminimalkan eksposur terhadap tembakan musuh sekaligus memaksimalkan kecepatan penguasaan area. Latihan berulang dengan variasi skenario menjadi kunci agar prosedur tersebut tertanam sebagai insting taktis, bukan sekadar hafalan gerakan.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL, Batalyon Infanteri 1 Marinir
Lokasi: Surabaya