Dalam simulasi operasi amfibi skala brigade, TNI AL menerapkan prosedur pendaratan pasukan yang terstruktur dan sistematis. Latihan ini melibatkan KRI pengangkut pasukan, kapal perang pendukung, serta pesawat tempur yang beroperasi secara terkoordinasi. Seluruh rangkaian dimulai dari fase tembakan persiapan hingga pembentukan jalur suplai di darat, mengikuti doktrin pendaratan amfibi modern. Setiap langkah dirancang untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan efisiensi dalam merebut serta mengamankan pesisir musuh.
Fase 1: Naval Gunfire Support – Membersihkan Jalur Pendaratan
Tahap pertama adalah naval gunfire support yang dilakukan oleh fregat kelas Martadinata dan korvet. Kapal-kapal ini melaksanakan preparatory fire terhadap posisi pertahanan pantai yang disimulasikan berdasarkan koordinat grid yang telah ditentukan. Tujuannya adalah menetralisir ancaman seperti artileri, bunker, dan ranjau darat sebelum pasukan mendarat. Serangan dilanjutkan dengan roket artileri dari kapal pendukung untuk menghancurkan sisa pertahanan musuh. Tahap ini krusial karena menentukan tingkat keselamatan pasukan saat memasuki zona pendaratan. Tanpa dukungan tembakan yang memadai, risiko kehilangan besar saat beachhead masih terbuka sangat tinggi.
Setelah tembakan persiapan selesai, giliran pendaratan pasukan dimulai. Prosedur ini diatur dalam tiga gelombang dengan interval waktu 5–7 menit untuk menghindari penumpukan di pantai. Berikut rincian formasi gelombang:
- Gelombang pertama (Assault Wave) – Membawa pasukan infanteri Marinir menggunakan Landing Craft Utility (LCU) dan Amphibious Assault Vehicle (AAV-7A1). Tugas mereka adalah mengamankan beachhead dan membuka jalan bagi gelombang berikutnya.
- Gelombang kedua (Support Wave) – Mengangkut kendaraan tempur, logistik, dan perlengkapan berat. Kehadiran mereka memperkuat pertahanan dan memungkinkan ekspansi awal.
- Gelombang ketiga (Reserve Wave) – Berfungsi sebagai pasukan cadangan yang siap dikerahkan jika terjadi perlawanan sengit atau kebutuhan taktis mendadak.
Fase 2: Pembentukan Beachhead dan Ekspansi Lodgment
Setelah beachhead terbentuk, pasukan segera melaksanakan expanding the lodgment procedure. Ini meliputi pembentukan perimeter pertahanan 360 derajat untuk melindungi zona pendaratan dari serangan balik musuh. Helikopter serang dan transport dari KRI Bunga Teratai (kelas Tanjung Dalpele) memberikan dukungan udara vertikal serta kemampuan medevac untuk mengevakuasi korban. Simulasi kemudian berlanjut ke tahap establishing supply lines dari kapal ke pantai menggunakan amphibious connectors, seperti LCU dan kendaraan amfibi, untuk memastikan aliran logistik lancar. Seluruh operasi dikoordinasikan melalui Naval Amphibious Task Force Command yang berada di atas kapal komando, sehingga setiap pergerakan dapat dimonitor dan diarahkan secara real-time.
Analisis taktis dari simulasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan operasi amfibi sangat bergantung pada sinkronisasi antara tembakan persiapan, pendaratan gelombang, dan penguasaan pesisir. Interval waktu antar gelombang yang tepat mencegah kepadatan di pantai yang bisa menjadi sasaran empuk musuh. Dukungan udara vertikal juga menjadi faktor pengganda kekuatan yang memungkinkan respons cepat terhadap ancaman tak terduga. Bagi para penggemar militer, latihan ini memberikan gambaran nyata tentang kompleksitas perencanaan dan eksekusi pendaratan amfibi di era modern.