Simulasi operasi SAR yang digelar Lanud Sultan Hasanuddin di Sulawesi Selatan merupakan uji coba prosedur evakuasi korban bencana yang dirancang sebagai skenario taktis. Bukan sekadar latihan rutin, kegiatan ini mengerahkan helikopter HH-60 yang membawa personel medis dan alat evakuasi untuk menguji koordinasi lintas instansi antara TNI AU, Basarnas, BPBD, dan rumah sakit militer dalam tekanan waktu yang ketat. Skenario yang disimulasikan meniru kondisi nyata saat gempa bumi dan banjir melanda, di mana setiap tahap evakuasi medis udara harus berjalan cepat dan efektif untuk menyelamatkan korban.
Prosedur Evakuasi Medis Udara: Dari Panggilan Darurat hingga Triase
Prosedur dimulai saat pusat kendali menerima informasi kejadian bencana. Tim SAR diterjunkan menggunakan helikopter HH-60 yang telah dilengkapi peralatan medis dan alat evakuasi. Setelah mendarat di lokasi, langkah pertama adalah melakukan triase sederhana untuk mengidentifikasi korban dengan prioritas tinggi—biasanya mereka yang mengalami luka parah atau kesulitan bernapas. Proses ini krusial karena menentukan urutan evakuasi dan penggunaan sumber daya yang terbatas. Berikut rincian tahapan evakuasi medis udara yang diuji dalam simulasi ini:
- Tahap 1: Penerimaan informasi dan pengiriman tim SAR. Pusat kendali menerima laporan, lalu menerbangkan helikopter HH-60 ke lokasi.
- Tahap 2: Triase di lapangan. Tim medis mengidentifikasi korban kritis dan menentukan prioritas evakuasi berdasarkan tingkat keparahan.
- Tahap 3: Evakuasi menggunakan teknik hoist. Korban kritis diangkat dengan tandu melalui helikopter dari area sulit seperti reruntuhan atau medan berbukit.
- Tahap 4: Pertolongan pertama di udara. Personel medis di dalam helikopter memberikan tindakan darurat dan memantau kondisi korban sambil berkoordinasi dengan rumah sakit militer.
- Tahap 5: Transfer ke rumah sakit. Korban dibawa ke rumah sakit militer yang telah disiagakan dengan ruang operasi dan tim dokter.
Analisis Taktis: Efisiensi Waktu dan Koordinasi Radio
Tahap akhir simulasi adalah evaluasi waktu evakuasi, mulai dari panggilan darurat hingga korban tiba di rumah sakit. Setiap keterlambatan dianalisis secara detail untuk menemukan hambatan, seperti gangguan koordinasi radio atau kesulitan pendaratan helikopter di lokasi. Simulasi ini juga menguji prosedur evakuasi medis udara dengan tandu vakum dan ventilasi darurat bagi korban yang mengalami kesulitan bernapas—sebuah taktik yang sangat vital dalam menangani korban dengan trauma inhalasi atau cedera dada.
Hasil evaluasi menjadi dasar untuk menyempurnakan prosedur standar operasi (SOP) SAR TNI AU dalam hal kecepatan respons dan ketepatan koordinasi antarinstansi. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya komunikasi real-time antara tim di lapangan dan pusat kendali, serta kesiapan peralatan medis khusus seperti tandu vakum yang mampu mengimobilisasi korban dengan cepat selama evakuasi udara.