Pada 7 September 2026, Korps Marinir TNI AL menggelar simulasi operasi amfibi skala penuh di Pantai Cilauteureun yang difokuskan pada teknik pendaratan gelombang kedua dan dukungan udara. Latihan ini melibatkan 2.000 personel dan 12 unit kendaraan amfibi, dengan tujuan menyempurnakan prosedur tempur pantai yang responsif terhadap ancaman modern. Fase pertama — pendaratan gelombang pertama — dilakukan oleh Batalyon Infanteri menggunakan LST (Landing Ship Tank) untuk merebut titik pendaratan dan membentuk jembatan awal. Tahap inilah yang menjadi landasan bagi pergerakan gelombang kedua yang lebih kompleks dan bergerak cepat.
Tahapan Pendaratan Gelombang Kedua dengan LCAC
Setelah jembatan pantai diamankan, gelombang kedua mulai bergerak menggunakan LCAC (Landing Craft Air Cushion) yang membawa kendaraan tempur amfibi. Keunggulan LCAC adalah kemampuannya melaju di atas permukaan air dan darat tanpa terkendala rintangan pantai. Prosedur pendaratan gelombang kedua dirancang dengan beberapa poin taktis kunci:
- Kecepatan dan Formasi: LCAC bergerak dengan kecepatan 20 knot dalam formasi diagonal. Formasi ini dipilih untuk mengurangi risiko terkena tembakan langsung dari pertahanan pantai karena sudut serang yang tidak beraturan.
- Koordinasi Komunikasi: Setiap 5 menit, tim pendarat melakukan komunikasi frekuensi UHF dengan helikopter serang untuk memastikan sinkronisasi dukungan udara dan menghindari friendly fire.
- Pengamanan Udara: Sebelum gelombang kedua mendarat, helikopter serang Bell 412 melakukan pembersihan pantai dari rintangan dan titik tembak musuh. Pilot helikopter memberikan api pendukung dengan jalur tembak menyilang antara garis pantai dan perbukitan, menciptakan zona aman bagi pasukan pendarat.
Koordinasi Udara dan Pertahanan Pantai
Dukungan helikopter serang dalam operasi amfibi tidak hanya bersifat ofensif tetapi juga defensif. Dalam simulasi ini, Bell 412 menyapu garis pantai dengan tembakan menyilang — sebuah teknik yang memaksa musuh berlindung dan mengurangi efektivitas tembakan balasan. Setelah gelombang pertama membentuk jembatan, helikopter terus memberikan perlindungan hingga gelombang kedua mencapai garis pantai. Tim pendarat kemudian segera melakukan penggalian posisi defensif dengan kedalaman minimal 50 meter dari garis air, menciptakan baju besi alami terhadap serangan balik musuh. Koordinasi ini menunjukkan betapa pentingnya sinergi antara unsur laut, darat, dan udara dalam pendaratan gelombang kedua.
Pelajaran taktis yang dapat dipetik dari simulasi ini adalah pentingnya kecepatan dan formasi dalam menghindari tembakan langsung, serta sinkronisasi komunikasi yang ketat antara pasukan pendarat dan helikopter serang. Dalam operasi amfibi modern, kemampuan untuk mengamankan jembatan pantai dengan cepat dan membangun posisi defensif dalam hitungan menit menjadi penentu keberhasilan misi. Formasi diagonal LCAC dan interval komunikasi 5 menit menunjukkan pendekatan yang terukur terhadap dinamika medan tempur pantai — di mana setiap detik dan setiap sudut pergerakan dapat menentukan hidup-mati pasukan.