Pada 15 Agustus 2026, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Manajemen Pertahanan (Pusjemen) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) menggelar workshop khusus di Bandung yang membedah doktrin pertahanan kontemporer. Acara ini langsung menyasar inti tantangan militer modern: bagaimana mengintegrasikan doktrin perang hibrida dan asimetris ke dalam postur TNI AD. Fokus utama bukan lagi pada pertempuran konvensional, melainkan pada spektrum ancaman non-tradisional separasi, terorisme, dan proxy war yang memerlukan pendekatan taktis berbeda. Workshop ini menjadi laboratorium konseptual untuk menyusun strategi pertahanan yang adaptif di era kompleksitas, dimulai dari pemahaman mendalam tentang dua pilar doktrin yang dibahas: Inner Defense dan Outer Defense.
Inner Defense dan Outer Defense: Dua Sisi Strategi Pertahanan Wilayah
Diskusi dalam workshop menyoroti bagaimana doktrin Inner Defense mengutamakan pertahanan di dalam wilayah sendiri dengan melibatkan komponen rakyat sebagai kekuatan cadangan. Ini adalah pendekatan instruksional untuk memobilisasi elemen non-militer secara sistematis, mirip dengan konsep pertahanan semesta. Di sisi lain, Outer Defense difokuskan pada cegah tangkal di perbatasan, menggunakan teknologi intelijen dan kekuatan pencegah. Peserta Pusjemen Seskoad merinci langkah-langkah taktis berikut:
- Integrasi Intelijen dan Psikologis (Psyops) – Operasi intelijen dan psikologis digunakan untuk mempengaruhi opini publik di daerah konflik, mengurangi dukungan lokal terhadap kelompok separatis.
- Pengelolaan Sumber Daya Manusia – Pelibatan komponen rakyat (seperti Hansip) dalam sistem pertahanan untuk memperkuat Inner Defense tanpa mengandalkan kekuatan militer murni.
- Penggunaan Unmanned Systems dan Cyber Domain – Adaptasi dari conventional warfare ke irregular warfare dengan memanfaatkan drone dan serangan siber untuk mengganggu komunikasi musuh sebelum infiltrasi.
- Simulasi Wargaming di Kalimantan Utara dan Papua – Skenario taktis di dua lokasi ini menguji penerapan doktrin dalam lingkungan yang rawan infiltrasi dan proxy war.
Dari Doktrin ke Praktik: Adaptasi Taktis dan Revisi Doktrin TNI AD 2027
Materi workshop juga mencakup penerapan perang asimetris dalam bentuk operasi hibrida, di mana taktik konvensional dipadukan dengan siber, psikologis, dan intelijen. Nota konsep yang disusun menekankan pentingnya adaptasi taktis, misalnya mengubah formasi tempur dari batalion bergerak lambat ke unit kecil yang didukung unmanned systems untuk respons cepat di medan berbatas. Peserta juga melakukan simulasi wargaming di Kalimantan Utara (menghadapi infiltrasi maritim) dan Papua (menghadapi gerilya pro-proxy war). Hasilnya menunjukkan bahwa doktrin Outer Defense memerlukan peningkatan pengawasan perbatasan dengan radar bergerak dan pasukan kontra-intelijen, sementara Inner Defense perlu memperkuat jaringan intelijen rakyat di desa-desa rawan.
Analisis Taktis: Workshop ini menegaskan bahwa doktrin pertahanan kontemporer tidak bisa statis. Rekomendasi yang dihasilkan akan dijadikan bahan revisi doktrin TNI AD tahun 2027, mengadaptasi pelajaran dari perang hibrida di Ukraina dan konflik di Afrika. Bagi prajurit, pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya fleksibilitas dalam menerapkan Inner Defense dan Outer Defense secara simultan, serta kesiapan dalam menghadapi ancaman yang tidak berbentuk medan perang linier. Keberhasilan pertahanan di era modern justru bergantung pada kemampuan mengelola persepsi publik dan domain siber, bukan hanya kekuatan tembakan.