Pusat Pendidikan dan Latihan Infanteri (Pusdiklat Pussenif) TNI AD baru-baru ini menggelar sebuah simulasi peperangan kota skala batalyon yang kompleks di Combat Training Center (CTC) 'Baturaja'. Latihan ini bukan sekadar gladi kosong, melainkan implementasi bertahap doktrin Urban Warfare yang melibatkan Batalyon Infanteri 144 dalam skenario ofensif merebut permukiman penduduk yang telah dikuasai pemberontak bersenjata. Proses dimulai dari pergerakan awal hingga close quarter battle (CQB) di dalam gedung, yang dirancang untuk mengasah prosedur tetap dan kerja sama tim di lingkungan tempur paling berbahaya.
Pergerakan Awal dan Teknik Infiltrasi ke Area Urban
Operasi ofensif diawali dengan pergerakan pasukan dari Line of Departure (LD) menuju batas kota. Untuk fase ini, Batalyon 144 menerapkan formasi traveling overwatch menggunakan kendaraan tempur roda rantai Pandur dan Anoa. Taktik ini memungkinkan satu elemen bergerak maju dengan perlindungan tembakan dari elemen lain yang siap memberikan dukungan. Begitu mencapai wilayah suburban, seluruh personel turun dari kendaraan dan melakukan transisi taktis ke formasi berjalan kaki. Squad column formation menjadi pilihan untuk memasuki area terbangun (built-up area), karena memberikan kontrol yang ketat, mengurangi profil sasaran, dan memudahkan komando di level peleton.
Prosedur Breaching, Clearing, dan Vertical Assault
Inti dari simulasi ini terletak pada teknik pembersihan gedung yang sistematis. Prosedur dimulai dengan membentuk dua tim inti:
- Assault Team (Tim Pemukul): Bertugas masuk dan menetralkan ancaman di dalam bangunan.
- Security Team (Tim Penjaga): Bertugas mengamankan area luar, pintu masuk, serta jalur mundur, sekaligus memberikan overwatch.
- Point Man: Bertanggung jawab membuka dan mengamankan ambang pintu.
- Man No. 2 & 3: Bergerak cepat masuk dan menyapu sektor kiri serta kanan ruangan. Man No. 4: Sebagai penutup, bertugas mengawasi area belakang tim dan koridor yang sudah dilewati.
Dukungan tembakan presisi disediakan oleh Tim Sniper yang ditempatkan di posisi overwatch strategis. Peran mereka krusial untuk menetralkan penembak jitu atau senapan mesin musuh yang menghambat pergerakan pasukan utama. Seluruh komunikasi selama baku tembak dalam ruangan dilakukan menggunakan radio hands-free dengan bone conduction headset, memungkinkan koordinasi tanpa perlu melepas tangan dari senjata. Setelah sebuah bangunan dinyatakan aman, prosedur marking dilakukan dengan memasang panel sinyal di tempat terbuka untuk memberi tanda 'clear' kepada pasukan pendukung atau unsur yang bergerak di belakang.
Latihan di CTC Baturaja ini mempertegas bahwa peperangan kota adalah persoalan disiplin, timing, dan integrasi taktis, bukan sekadar keberanian individu. Setiap langkah, dari formasi pergerakan hingga teknik clearing ruangan, telah distandardisasi untuk meminimalkan korban dan memaksimalkan efektivitas tempur. Pelajaran taktis utama yang dapat dipetik adalah bahwa keberhasilan di medan urban sangat bergantung pada kemampuan unit terkecil (tim/skuad) untuk menjalankan prosedur baku dengan sempurna, didukung oleh sistem komunikasi yang andal dan dukungan tembakan presisi dari berbagai elemen.