Pada 15 Agustus 2026, PT Pindad menggelar uji coba lapangan kendaraan tempur lapis baja (ranpur) Bison varian terbaru di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Cikeusik, Banten. Bison, yang merupakan kendaraan taktis roda 4x4, dirancang khusus untuk mendukung operasi intai dan patroli di medan berat. Uji coba ini tidak sekadar demonstrasi, melainkan simulasi operasional yang menguji tiga aspek kritis: mobilitas, ketahanan, dan kemampuan tembakan. Dengan sistem persenjataan modular yang memungkinkan pemasangan senapan mesin kaliber 7,62 mm atau pelontar granat otomatis, Bison menjadi platform yang fleksibel untuk berbagai skenario tempur jarak dekat hingga dukungan tembakan tidak langsung.
Tahap Mobilitas: Melintasi Medan Berlumpur hingga Tanjakan Ekstrem
Tahap pertama uji coba difokuskan pada kemampuan mobilitas Bison di berbagai rintangan medan. Insinyur Pindad dan personel TNI AD menguji kendaraan ini melalui tiga jenis medan berat yang mewakili kondisi operasi nyata:
- Medan berlumpur: Bison diuji kemampuannya melaju di tanah lunak dengan kedalaman lumpur hingga 40 cm, menguji traksi ban dan sistem penggerak 4x4.
- Penyebrangan sungai kecil: Kendaraan harus melintasi sungai dengan kedalaman 1,2 meter, memvalidasi sistem watertight dan kemampuan fording tanpa persiapan khusus.
- Tanjakan 45 derajat: Bison menunjukkan performa impresif dengan mampu mendaki tanjakan hingga kemiringan maksimal 60% (sekitar 31 derajat) menggunakan mesin diesel 300 hp. Hasil ini melampaui spesifikasi standar kendaraan taktis sejenis.
Setiap lintasan direkam dan dianalisis untuk mengukur respons suspensi, distribusi tenaga, serta stabilitas saat bermanuver di kontur ekstrem. Uji mobilitas ini membuktikan bahwa Bison mampu beroperasi di medan yang biasanya menjadi batasan bagi kendaraan roda biasa.
Uji Ketahanan dan Tembak: Validasi Sistem Modular
Tahap kedua menguji ketahanan sistem kendaraan secara menyeluruh. Bison dioperasikan non-stop selama 8 jam di trek off-road yang dirancang menyerupai medan operasi sesungguhnya. Tujuan utama adalah menguji keandalan sistem pendingin mesin dan transmisi otomatis saat bekerja dalam beban berat. Selama uji coba, suhu mesin dan transmisi dipantau terus-menerus; tidak ditemukan gejala overheat atau penurunan performa signifikan. Tahap ketiga adalah uji tembakan yang dilakukan saat kendaraan bergerak. Penembak jarak dekat menggunakan sistem stabilisasi senjata manual untuk membidik sasaran pada jarak 50-200 meter. Meskipun stabilisasi masih manual, akurasi tembakan tetap terjaga hingga kecepatan kendaraan 30 km/jam di medan tidak rata. Hasil uji ini akan menjadi dasar penyempurnaan desain akhir sebelum produksi massal untuk TNI AD dan Polri.
Secara taktis, uji coba ini menegaskan bahwa Bison adalah ranpur yang siap menghadapi tantangan medan berat di Indonesia, mulai dari hutan rawa hingga perbukitan. Kemampuan modular sistem persenjataan memberikan fleksibilitas bagi komandan satuan untuk menyesuaikan konfigurasi sesuai misi: intai bersenjata ringan atau dukungan tembakan dengan pelontar granat. Keandalan mesin dan transmisi yang teruji dalam operasi non-stop 8 jam menjadi jaminan bahwa Bison dapat diandalkan dalam patroli jarak jauh tanpa risiko breakdown. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah bahwa pengembangan ranpur nasional tidak hanya mengandalkan spesifikasi kertas, tetapi juga validasi lapangan yang ketat — seperti yang dilakukan Pindad di Puslatpur Cikeusik. Keputusan untuk menguji di medan berat sebelum produksi massal adalah langkah cerdas yang meminimalkan risiko kegagalan di medan operasi sesungguhnya.