Pada Selat Sunda, 15 Maret lalu, TNI AL melaksanakan uji tembak rudal C-705 dari KRI Clurit-641 terhadap kapal sasaran bekas. Prosedur peluncuran dirancang untuk menguji kemampuan sistem pertahanan laut dalam mode sea-skimming. Tahap awal dimulai saat radar pencari target pada KRI mengunci sasaran bergerak pada jarak 40 km, mengadopsi profil terbang rendah untuk meminimalkan deteksi musuh. Rudal C-705, yang mampu terbang pada ketinggian 5–10 meter di atas permukaan laut, diluncurkan dengan sudut elevasi 15 derajat untuk mencapai kecepatan awal yang optimal.
Prosedur Peluncuran: Dari Lock-On hingga Manuver S
Setelah peluncuran, inisiasi booster berlangsung selama 2 detik sebelum mesin ramjet aktif menggantikan daya dorong. Pada fase mid-course, rudal menerima koreksi jalur dari data-link kapal induk setiap 5 detik, memastikan akurasi navigasi meski dalam kondisi sea state tinggi. Saat mendekati target pada jarak 5 km, seeker radar aktif diaktifkan dan melakukan lock-on otomatis. Untuk mengatasi sistem CIWS target, rudal kemudian melakukan manuver S tajam yang mengubah lintasan secara agresif, mempersulit upaya intersepsi lawan. Berikut rincian tahapan teknisnya:
- Fase Booster: 2 detik, sudut elevasi 15°, meningkatkan kecepatan hingga mesin ramjet siap.
- Fase Mid-Course: Koreksi data-link setiap 5 detik, menjaga lintasan sea-skimming pada ketinggian 5–10 m.
- Fase Terminal: Seeker aktif pada jarak 5 km, lock-on otomatis, manuver S untuk menghindari CIWS.
- Ledakan: Daya ledak setara 300 kg TNT, menghantam buritan target.
Hasil Uji: Presisi Tinggi dengan Deviasi 0,5 Meter
Setelah menghantam buritan target, rudal meledak sesuai rencana. Evaluasi menunjukkan waktu terbang 2 menit 18 detik dengan deviasi hanya 0,5 meter dari titik impak. Angka ini membuktikan kemampuan sistem pemandu rudal C-705 dalam mengatasi gangguan lingkungan dan manuver target. Keberhasilan ini mengonfirmasi bahwa rudal anti-kapal buatan dalam negeri siap diintegrasikan ke KRI kelas lainnya, memperkuat pertahanan laut Indonesia secara mandiri.
Secara taktis, uji coba ini mengajarkan pentingnya sinkronisasi antara radar, data-link, dan seeker dalam operasi sea-skimming. Manuver S yang diadopsi tidak hanya menguji ketahanan rudal terhadap gaya-G tinggi, tetapi juga merefleksikan doktrin untuk mengatasi ancaman CIWS modern. Bagi penggemar militer, langkah ini merupakan bukti bahwa industri pertahanan dalam negeri mampu memproduksi rudal dengan kinerja setara kelas dunia, sekaligus membuka peluang pengembangan varian dengan jarak jangkau lebih jauh.