TNI baru-baru ini menggelar simulasi implementasi doktrin Anti-Akses/Area Denial (A2/AD) di titik cekik (choke point) Selat Makassar. Simulasi ini menguji sistem pertahanan berlapis yang dirancang untuk menghalangi akses musuh ke wilayah strategis. Doktrin A2/AD menjadi fokus utama karena Selat Makassar merupakan jalur laut vital yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Hindia. Dalam skenario, TNI mengerahkan berbagai aset dari udara, laut, dan darat dalam satu kesatuan komando yang terintegrasi.
Struktur Pertahanan Berlapis: Outer, Middle, dan Inner Layer
Pertahanan dibagi menjadi tiga lapisan. Lapisan terluar (Outer Layer) mengandalkan pesawat patroli maritim bersenjata dan kapal selam Type 209/1400 yang berpatroli di garis batas ZEE. Mereka berfungsi sebagai intelligence picket, memberikan peringatan dini serta menjadi first line of engagement. Kapal selam menggunakan torpedo, sementara pesawat patroli membawa rudal anti kapal untuk menyerang sasaran permukaan.
Lapisan tengah (Middle Layer) merupakan bastion rudal darat. Battery rudal K-SAM Chunma (darat-ke-udara) dan RBS-15 (darat-ke-laut) ditempatkan di pulau-pulau kecil sepanjang selat. Keberadaan mereka didukung oleh jaringan coastal radar yang memindai permukaan dan udara secara kontinu. Setiap radar melaporkan track data ke command center via data link. Prosedur engagement di lapisan ini berlangsung sistematis:
- Deteksi oleh coastal radar terhadap target kapal atau pesawat musuh
- Transmisi data target ke command center melalui data link
- Threat assessment berdasarkan kecepatan, jarak, dan heading oleh command center
- Otorisasi fire mission dan perintah tembak ke battery rudal
- Peluncuran rudal oleh battery K-SAM Chunma atau RBS-15
Lapisan terdalam (Inner Layer) adalah point defense di sekitar pelabuhan dan objek vital. Sistem rudal jarak pendek Mistral dan kanon kaliber menengah 40mm digunakan untuk mencegat target yang lolos dari dua lapisan sebelumnya. Lapisan ini menjadi jaring pengaman terakhir yang memastikan tidak ada ancaman yang mencapai pusat vital.
Prosedur Engagement dan Skenario Saturation Attack
Kunci dari doktrin A2/AD ini adalah Integrated Air and Missile Defense (IAMD) system. Sistem ini menghubungkan semua sensor—radar darat, radar kapal, radar pesawat—dan semua shooter (rudal, artileri) dalam satu jaringan data link. Dengan IAMD, picture medan perang dapat dilihat secara real-time oleh seluruh elemen. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Dalam simulasi, sistem diuji dengan skenario saturation attack, yaitu serangan massal dari berbagai arah dan ketinggian. Sistem harus melakukan threat prioritization berdasarkan beberapa kriteria:
- Kecepatan target: semakin cepat, semakin tinggi prioritas
- Jarak dari objek vital yang dilindungi
- Heading atau arah terbang menuju area vital
- Jenis ancaman: rudal jelajah mendapat prioritas lebih tinggi daripada pesawat tempur
Prosedur ini melatih kemampuan command center untuk mengalokasikan sumber daya secara efisien dalam tekanan tinggi. Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah bahwa doktrin A2/AD bukan sekadar kumpulan rudal dan radar, melainkan integrasi jaringan dan kedisiplinan prosedur. Skenario saturation attack mengungkap pentingnya redundansi sensor dan kemampuan sistem untuk tetap berfungsi meskipun sebagian node terganggu. Kelemahan potensial terletak pada data link; jika terputus, maka koordinasi antar lapisan bisa kacau. Oleh karena itu, latihan semacam ini krusial untuk mengasah kemampuan reaksi dan improvisasi dalam pertempuran nyata.