Latihan gabungan TNI dengan sandi Operasi Gurita 2025 menghadirkan skenario simulasi serangan udara dari kapal induk terhadap sasaran darat di wilayah kepulauan terpencil. Latihan ini dirancang untuk menguji prosedur proyeksi kekuatan udara berbasis platform bergerak, memadukan operasi satuan khusus, penerbangan taktis, dan pengendalian tembakan darat. Seluruh tahapan mulai dari infiltrasi hingga recovery dilakukan sesuai protokol standar militer modern, memberikan gambaran nyata tentang kemampuan TNI dalam melaksanakan operasi amfibi dan proyeksi kekuatan jarak jauh.
Fase Infiltrasi: Recon dan Marking LZ oleh Satuan Khusus
Tahap pertama dimulai dengan fase infiltrasi di mana satuan khusus TNI, yakni KOPASKA dan KOPASSUS, diterjunkan ke posisi pantai terpencil. Misi awal mereka adalah melakukan pengintaian (recon) dan menandai (marking) zona pendaratan (landing zone/LZ) menggunakan laser designator. Alat ini memancarkan sinar laser yang menjadi panduan bagi munisi cerdas dari udara. Prosedur marking LZ dilakukan secara diam-diam untuk menghindari deteksi musuh, sekaligus memastikan koordinat target tervalidasi sebelum gelombang serangan dari kapal induk tiba. Dengan teknik ini, satuan khusus menjamin bahwa setiap sasaran telah teridentifikasi dengan presisi tinggi, mengurangi risiko kesalahan dalam fase penyerangan berikutnya.
Fase Serangan Udara: Pola SEAD dan Buddy Lasing
Setelah LZ siap, pesawat tempur Harrier II dari dek kapal induk mulai meluncur dalam formasi dua pesawat (element formation) dengan interval 30 detik. Lepas landas menggunakan teknik ski jump dengan sudut optimal 12 derajat untuk menghasilkan short take-off — taktik yang memungkinkan lepas landas dalam jarak terbatas dari dek. Fase serangan udara ini mengadopsi pola SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
- Drone Loitering sebagai Bait: Drone dikirim lebih dulu untuk mengaktifkan radar pertahanan musuh. Begitu radar terdeteksi, pesawat utama langsung melancarkan serangan rudal anti-radiasi untuk membutakan pertahanan udara.
- Prosedur Buddy Lasing: Pesawat pertama menandai target dengan laser, sementara pesawat kedua melepaskan smart munitions (JDAM) yang terkunci pada laser code yang sama. Metode ini menjamin akurasi tinggi meskipun target bergerak atau berada di medan sulit.
- Mode Maritime Strike: Untuk sasaran bergerak di laut, pesawat beralih ke mode radar maritime strike yang mampu mendeteksi kapal pada jarak 80 n mil (sekitar 148 km) dan meluncurkan senjata anti-kapal.
Koordinasi antara kapal induk dan unsur darat dilakukan melalui Joint Terminal Attack Controller (JTAC) yang berada di ground team. Prosedur Close Air Support (CAS) mengikuti format nine-line brief yang terdiri dari: (1) Initial Point, (2) Heading, (3) Distance, (4) Target Elevation, (5) Target Description, (6) Target Location, (7) Marking Method, (8) Friendlies Location, (9) Egress Direction. Pesawat kemudian mengadopsi racetrack pattern di atas target area dengan orbit radius 5 n mil sambil menunggu clearance on target dari JTAC. Pola ini memberikan fleksibilitas untuk mengulang serangan atau beralih target tanpa kehilangan kontak visual.
Tahap recovery menjadi penutup dari rangkaian operasi. Setelah seluruh sasaran berhasil dihancurkan dan area dinyatakan aman oleh tim JTAC, pesawat kembali ke kapal induk untuk mendarat menggunakan teknik vertical landing. Prosedur ini membutuhkan koordinasi ketat antara pilot dan deck crew untuk memastikan pendaratan yang aman di dek yang bergerak. Sementara itu, satuan khusus melakukan ekstraksi menggunakan helikopter atau perahu karet, tergantung pada kondisi medan dan tingkat ancaman.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari latihan gabungan ini adalah pentingnya integrasi antara kekuatan udara berbasis kapal induk dengan operasi darat satuan khusus. Proyeksi kekuatan udara dari platform bergerak seperti kapal induk memberikan fleksibilitas tinggi dalam merespons ancaman di wilayah kepulauan yang luas, sementara prosedur buddy lasing dan nine-line brief menjadi kunci untuk menghindari friendly fire dan meningkatkan akurasi serangan. Latihan ini membuktikan bahwa TNI mampu melaksanakan operasi gabungan modern dengan standar internasional, sekaligus mengasah kemampuan tempur di lingkungan maritim yang dinamis.