Pada latihan pendaratan amfibi di Pantai Licin, Banyuwangi, Batalyon 1 Marinir TNI AL menerapkan skema gelombang pertama (wave 1) yang dirancang untuk membangun beachhead secara cepat dan aman. Dengan mengerahkan 6 unit Landing Craft Utility (LCU) dan 4 unit kendaraan tempur BTR-80, latihan ini menyimulasikan tahapan kritis operasi amfibi mulai dari pengintaian hingga penetrasi ke darat. Setiap langkah dijalankan berdasarkan prosedur baku yang telah diukur waktunya, menekankan pentingnya koordinasi antara satuan laut dan darat dalam menghadapi ancaman seperti ranjau darat dan serangan drone.
Tahap Awal: Pengintaian dan Pembentukan Beachhead
Prosedur dimulai pada H-1 dengan pengintaian pantai oleh tim RECON yang bertugas memetakan kontur garis pantai, titik pendaratan ideal, serta potensi rintangan musuh. Data ini menjadi dasar bagi komandan satuan untuk menentukan formasi pendaratan. Pada hari pelaksanaan, gelombang pertama pasukan infantri mendarat menggunakan LCU dengan formasi line abreast—sejajar menghadap pantai—guna meminimalkan risiko terkena tembakan flail dari pertahanan pantai musuh. Setelah mencapai darat, tim segera membentuk beachhead (titik pijak) dalam waktu tempuh 30 menit, mengamankan perimeter awal melalui penguasaan garis pantai. Tahapan ini melibatkan:
- Pendaratan serempak enam LCU dengan jarak antar-unit 50 meter untuk menghindari konsentrasi tembakan.
- Penyebaran pasukan dalam formasi segitiga defensif di luar batas air pasang.
- Pengiriman laporan status beachhead ke pusat komando melalui komunikasi terenkripsi.
Penetrasi ke Darat dan Simulasi Perlawanan
Setelah beachhead dinyatakan aman, langkah selanjutnya adalah penetrasi ke darat oleh BTR-80 sejauh 2 km untuk memperluas area pendaratan dan mengamankan rute logistik. Dalam tahap ini, pasukan menghadapi simulasi perlawanan musuh berupa ranjau darat dan serangan drone pengintai. Tim combat engineer bertugas membersihkan jalur ranjau menggunakan detektor metal dan alat pemotong, sementara penembak jitu (sniper) mengawasi pergerakan drone. Seluruh proses penetrasi dan pengamanan area ditargetkan selesai dalam 45 menit, dengan koordinasi ketat antara kendaraan tempur dan pasukan infantri yang bergerak di sisi-sisi. Latihan taktik marinir di Banyuwangi ini juga menyertakan skenario evakuasi korban dan perbaikan kendaraan darurat, memperkuat kesiapan satuan dalam kondisi pertempuran nyata.
Pelajaran taktis yang dapat dipetik dari latihan pendaratan amfibi ini adalah pentingnya pengintaian awal yang akurat, disiplin formasi pendaratan untuk mengurangi kerentanan, serta kecepatan dalam membangun dan memperluas beachhead. Kombinasi antara infanteri mekanis (BTR-80) dan pasukan pendarat konvensional (LCU) menunjukkan integrasi yang efektif, namun tetap memerlukan latihan berulang untuk menyinkronkan waktu reaksi terhadap ancaman asimetris seperti ranjau dan drone. Bagi para penggemar militer, latihan taktik marinir di Banyuwangi ini menjadi contoh nyata bagaimana doktrin amfibi Indonesia terus diuji dan disempurnakan.