Pada 10 September 2026, Pangdam V/Brawijaya bersama Kapolda Jawa Timur memimpin latihan bersama TNI-Polri untuk menguji prosedur pengamanan objek vital di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Skenario yang diangkat adalah ancaman penyusupan teroris di area peti kemas — sebuah simulasi taktis yang menuntut sinkronisasi antara perimeter luar dan dalam. Latihan ini menjadi ajang validasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Satuan Tugas Pengamanan Objek Vital Nasional (Satgas Pam Obvitnas) dengan menerapkan sistem checkpoint berlapis yang ketat.
Penerapan Checkpoint Berlapis: Lapis Pertama hingga Ketiga
Prosedur keamanan dimulai dari lapis pertama di pintu masuk utama area pelabuhan. Petugas gabungan TNI-Polri melakukan pemeriksaan identitas dan kendaraan menggunakan anjing pelacak (K9) serta hand metal detector. Setiap kendaraan yang lolos verifikasi awal kemudian diarahkan ke zona kedua — area yang lebih steril. Di sini, tim melakukan inspeksi under vehicle mirror untuk memeriksa bagian bawah kendaraan, dikombinasikan dengan swab test bahan peledak. Jika ditemukan indikasi mencurigakan, kendaraan langsung dialihkan ke zona tunda untuk pemeriksaan mendalam menggunakan X-ray portabel. Lapis ketiga difokuskan di sekitar fasilitas vital: patroli bersenjata lengkap bergerak dalam formasi staggered column — formasi yang memberikan sudut pandang optimal dan mengurangi risiko tembakan silang. Berikut rincian tahapan checkpoint berlapis yang dilatihkan:
- Lapis 1 (Pintu Masuk Utama): Pemeriksaan identitas, K9, dan hand metal detector — fokus pada deteksi dini bahan peledak dan senjata.
- Lapis 2 (Zona Kedua): Under vehicle mirror dan swab test bahan peledak; kendaraan mencurigakan dialihkan ke zona tunda untuk X-ray portabel.
- Lapis 3 (Sekitar Fasilitas Vital): Patroli dengan formasi staggered column oleh tim bersenjata lengkap — siap merespons secara mobile.
Respon Mobile: Teknik 'Pincer Intercept' dan Koordinasi TNI-Polri
Latihan tidak hanya berhenti pada prosedur statis. Skenario kemudian menguji respons terhadap serangan mobile — kendaraan lawan yang mencoba menerobos barrier. Tim gabungan melatih teknik 'pincer intercept': dua mobil patroli bergerak simultan dari sisi kiri dan kanan setelah pelaku melewati barrier ke-3. Manuver ini dirancang untuk menjepit kendaraan lawan, memotong jalur mundur, dan memberikan tekanan taktis dari dua arah. Latihan bersama ini menekankan pembagian peran yang jelas: TNI bertanggung jawab atas pengamanan perimeter luar (pencegahan infiltrasi), sementara Polri memegang kendali penegakan hukum dan negosiasi di dalam area. Seluruh langkah didokumentasikan secara ketat untuk bahan evaluasi dan penyempurnaan SOP Satgas Pam Obvitnas. Pelajaran taktis yang bisa dipetik: sistem checkpoint berlapis tidak hanya mengandalkan peralatan, tetapi juga kecepatan koordinasi dan formasi manuver yang presisi — terutama saat menghadapi ancaman bergerak.