Dalam latihan anti-kapal selam yang digelar di Selat Makassar, KRI Hassanuddin-366 (korvet kelas Diponegoro) bekerja sama dengan helikopter AS565 Panther dari Pusat Penerbangan TNI AL melaksanakan prosedur deteksi dan penghancuran target bawah air secara bertahap. Latihan ini dirancang untuk menguji seluruh rantai komando dan eksekusi mulai dari aktivasi sonar aktif hingga pelepasan depth charge, serta simulasi situasi darurat jika target berubah menjadi agresif. Berikut adalah rincian prosedur taktis yang dijalankan.
Tahapan Prosedur Sonar Aktif dan Verifikasi Kontak
Prosedur dimulai ketika KRI Hassanuddin-366 mengaktifkan sonar aktif pada frekuensi 3,5 kHz untuk mendeteksi keberadaan kontak bawah air. Setelah mendapatkan indikasi, tim sonar melakukan konfirmasi pada jarak 4.000 yard (sekitar 3.660 meter). Data posisi kontak kemudian dikirimkan ke helikopter Panther melalui tautan data Link 11 secara real-time. Helikopter yang telah berada di udara segera bergerak menuju titik yang ditentukan dan melakukan hovering pada ketinggian 50 kaki (sekitar 15 meter) di atas permukaan laut. Dari posisi ini, operator menurunkan sonar dipping (dunking sonar) untuk melakukan verifikasi lebih presisi. Proses ini memungkinkan kru helikopter memastikan apakah kontak tersebut benar-benar kapal selam 'musuh' atau objek lain.
- Aktivasi sonar aktif KRI: Frekuensi 3,5 kHz, jangkauan optimal untuk deteksi awal.
- Konfirmasi jarak: Kontak terkonfirmasi pada 4.000 yard.
- Transmisi data: Data kontak dikirim ke helikopter via Link 11.
- Hovering helikopter: Ketinggian 50 kaki untuk menurunkan sonar dipping.
- Verifikasi sonar dipping: Dipping sonar menghasilkan akurasi tinggi dalam membedakan target.
Setelah sonar dipping mengonfirmasi bahwa target adalah kapal selam 'musuh' pada kedalaman 80 meter, komandan KRI memberikan wewenang kepada kru helikopter untuk melaksanakan serangan. Tahap ini menuntut koordinasi yang ketat antara operator sonar di helikopter dan pusat kendali taktis di kapal.
Mekanisme Serangan Depth Charge dan Prosedur Darurat
Dengan target telah terverifikasi, helikopter Panther bersiap untuk melepaskan depth charge Mk 9. Fuse (kedalaman ledakan) diatur pada 100 meter — sedikit di bawah kedalaman target (80 meter) — untuk memastikan gelombang kejut optimal mengenai lambung kapal selam. Pelepasan dilakukan dari posisi hovering yang sama, dengan memperhitungkan drift air dan kecepatan target. Setelah depth charge dilepaskan, helikopter segera melakukan manuver menjauh untuk menghindari efek ledakan. Latihan ini juga mencakup skenario emergency breakaway bila kontak tiba-tiba menjadi agresif (misalnya meluncurkan torpedo atau melakukan manuver mendadak). Dalam skenario tersebut, helikopter harus segera memutus kontak dan kembali ke zona aman sambil melaporkan situasi ke KRI.
- Depth charge Mk 9: Fuse diatur pada kedalaman 100 meter.
- Pelepasan: Dilakukan dari ketinggian hover 50 kaki, menghitung faktor lingkungan.
- Breakaway prosedur: Helikopter menjauh cepat untuk menghindari serangan balik.
- Koordinasi KRI-helikopter: Komunikasi via Link 11 dan radio taktis.
Latihan ini menegaskan pentingnya integrasi antara platform kapal permukaan dan udara dalam operasi anti-kapal selam. Dengan menggunakan sonar aktif KRI sebagai sensor jarak jauh dan sonar dipping helikopter sebagai alat verifikasi presisi, skema taktis ini memungkinkan respons yang cepat dan tepat terhadap ancaman bawah air. Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah bahwa sinergi antara KRI dan helikopter tidak hanya memperluas jangkauan deteksi tetapi juga memberikan fleksibilitas dalam menentukan waktu dan metode serangan, terutama dalam situasi di mana target mencoba melakukan manuver mengelabui.