Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

Latgab TNI-AU TNI-AL: Simulasi Coordinated Air-Sea Battle di Selat Sunda

Latgab TNI-AU dan TNI-AL di Selat Sunda mensimulasikan air-sea battle dengan skenario menerobos sistem A2/AD yang melindungi Pulau Krakatau. Tahapan operasi mencakup deteksi oleh CN-235 MPA, manuver zig-zag KRI Bung Tomo, CAP dan engagement oleh F-16 Viper, serta VERTREP. Latihan ini menekankan pentingnya koordinasi lintas matra melalui double-link komunikasi dan formasi CAP optimal.

Latgab TNI-AU TNI-AL: Simulasi Coordinated Air-Sea Battle di Selat Sunda

Latgab TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Laut pada 22 September 2026 di Selat Sunda menguji simulasi air-sea battle yang dirancang untuk menerobos sistem A2/AD yang melindungi Pulau Krakatau. Seluruh tahapan operasi ini dibedah secara taktis untuk menunjukkan pentingnya integrasi lintas matra dalam menghadapi ancaman anti-access area denial. Berikut adalah rincian prosedur yang dijalankan, dari deteksi hingga engagement dan logistik.

Tahapan Awal: Deteksi dan Manuver Menghindar

Latihan dimulai dengan patroli maritim menggunakan pesawat CN-235 MPA yang mendeteksi bogey di perairan Selat Sunda. Data track dikirimkan ke KRI Bung Tomo melalui rantai komando double-link Link 16 dan radio HF cadangan sebagai antisipasi jamming. Setelah menerima data, KRI Bung Tomo segera melaksanakan manuver zig-zag dengan kecepatan tinggi untuk menghindari ancaman torpedo yang diproyeksikan dari unit A2/AD darat, sambil mempertahankan posisi relatif terhadap Krakatau sebagai target.

  • Pesawat CN-235 MPA menggunakan radar maritim untuk scan area seluas 200 NM persegi.
  • KRI Bung Tomo mengaktifkan sistem decoy torpedo dan chaff untuk mengelabui sensor musuh.
  • Komunikasi cadangan radio HF digunakan untuk mengantisipasi kemungkinan jamming pada Link 16.

Fase Combat Air Patrol dan Engagement Udara-Permukaan

Empat F-16 Viper dari Lanud Supadio diterbangkan untuk melaksanakan Combat Air Patrol (CAP) pada ketinggian 15.000 ft dengan formasi fluid four. Pembagian sektor tanggung jawab dirancang untuk melindungi KRI Bung Tomo dan jalur pendekatan ke Krakatau. Setelah mendapat clearance fire zone, simulasi engagement dilakukan menggunakan misil udara ke permukaan AGM-65 Maverick dan AGM-84 Harpoon terhadap sasaran A2/AD yang telah ditandai. Protokol double-tap diterapkan untuk memastikan kill probability tinggi.

  • Formasi CAP: dua pesawat sebagai high cover (16.000 ft), dua sebagai low cover (14.000 ft).
  • Clearance fire zone diberikan setelah identifikasi positif melalui sensor EOTS dan radar AESA.
  • Simulasi misil menggunakan telemetry tanpa hulu ledak, dengan parameter impact point tercatat di sistem debriefing.

Setelah fase engagement, latihan diakhiri dengan vertical replenishment (VERTREP) antara KRI dan pesawat C-130 Hercules yang membawa logistik tambahan. Prosedur ini menguji kemampuan logistics over the shore secara vertikal di tengah laut, yang sangat penting untuk mendukung operasi air-sea battle berkelanjutan.

Analisis taktis dari latgab ini menunjukkan pentingnya koordinasi antara udara dan laut dalam menghadapi ancaman A2/AD. Penggunaan double-link komunikasi dan manuver zig-zag merupakan taktik standar untuk meminimalkan probability of hit torpedo, sementara CAP di ketinggian optimal memberikan fleksibilitas untuk intercept ancaman udara. Pelajaran utama bagi para penggemar militer adalah bahwa integrasi lintas matra bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang prosedur dan disiplin dalam menjalankan setiap tahapan operasi.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AU, TNI AL, Lanud Supadio
Lokasi: Selat Sunda, Lanud Supadio