Dalam doktrin terbaru TNI AL, kapal LHD Giuseppe Garibaldi yang akan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya pada 24 September 2026 dioptimalkan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana. Taktik utama yang dikembangkan adalah rapid heliborne deployment, di mana kapal berfungsi sebagai floating logistics hub yang mampu mengirimkan bantuan ke daerah terpencil melalui udara. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memastikan bahwa prosedur inspeksi menyeluruh terhadap seluruh peralatan kapal telah selesai, mulai dari ruang mesin, sistem elektronik, dek penerbangan, hingga fasilitas akomodasi. Hasilnya, kapal dinyatakan siap operasi untuk jangka waktu 15 hingga 20 tahun ke depan, menandai komitmen optimalisasi aset strategis bagi operasi kemanusiaan.
Prosedur Inspeksi dan Kesiapan Kapal
Inspeksi mendalam dilakukan bersama Menteri Pertahanan dan para kepala staf untuk memvalidasi fungsi setiap komponen. Proses reflagging menjadi KRI Sriwijaya direncanakan berlangsung pada 24 September 2026, dengan target minimal masa operasi 15-20 tahun. Berikut adalah tahapan pemeriksaan yang dilalui:
- Ruang mesin: Verifikasi sistem propulsi dan pembangkit listrik untuk memastikan kemampuan jelajah jarak jauh.
- Sistem elektronik: Uji komunikasi, navigasi, dan radar untuk mendukung koordinasi helikopter saat misi.
- Dek penerbangan: Pengecekan struktur landasan dan sistem penanganan bahan bakar guna menunjang operasi helikopter hingga 14 unit.
- Fasilitas akomodasi: Evaluasi ruang medis, logistik, dan tempat istirahat kru untuk mendukung misi kemanusiaan berkelanjutan.
Simulasi Operasi Kemanusiaan: Empat Fase Taktis
Taktik yang dikembangkan dalam OMSP ini mengedepankan respons cepat terhadap bencana. Simulasi operasi kemanusiaan melibatkan empat fase yang terstruktur, menggunakan helikopter sebagai tulang punggung distribusi. Berikut adalah rincian prosedur standar yang diterapkan:
- Fase 1: Gerak Cepat ke Zona Bencana — Kapal bergerak dengan pengawalan menuju perairan terdampak. Kecepatan manuver menjadi prioritas untuk memotong waktu tempuh.
- Fase 2: Reconnaissance dan Damage Assessment — Helikopter melakukan penerbangan awal untuk memetakan area terdampak dan menentukan titik pendaratan yang aman.
- Fase 3: Sortie Beruntun — Seluruh helikopter yang diangkut (maksimal 14 unit) menjalankan sortie terus-menerus untuk menurunkan pasukan, tim medis, dan logistik ke lokasi-lokasi sulit dijangkau.
- Fase 4: Base Camp Terapung — Setelah distribusi awal, kapal berfungsi sebagai pusat koordinasi lanjutan, menyediakan akomodasi, perawatan medis, dan dukungan logistik bagi tim darat.
Optimalisasi peran kapal LHD ini memberikan fleksibilitas tinggi dalam operasi kemanusiaan, terutama untuk menjangkau area remote dan terpencil yang tidak memiliki infrastruktur darat memadai. Pelajaran taktis yang dapat diambil adalah kemampuan mengintegrasikan aset laut dan udara secara simultan — sebuah doktrin yang jarang dimiliki oleh negara lain di kawasan. Dengan demikian, KRI Sriwijaya tidak hanya menjadi simbol kekuatan, tetapi juga instrumen respons bencana yang andal di bawah komando KSAL dan TNI AL.