Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

KRI Banda Aceh-593 Latihan Manuver Anti Kapal Selam Bersama AL Australia

Latihan Anti Kapal Selam di Selat Sunda menguji prosedur deteksi dan manuver evasif menggunakan formasi diamond serta koordinasi antara KRI Banda Aceh-593 dan helikopter AS565 Panther. Integrasi multiunsur antara unsur permukaan, udara, dan pusat operasi taktis menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman kapal selam. Pelajaran taktis utama adalah efektivitas formasi diamond untuk mempersempit ruang gerak musuh dan pentingnya respons cepat melalui data link taktis.

KRI Banda Aceh-593 Latihan Manuver Anti Kapal Selam Bersama AL Australia

Pada 24 September 2026, perairan Selat Sunda menjadi arena latihan Anti Kapal Selam (AKS) yang melibatkan TNI AL dan Angkatan Laut Australia. Dalam skenario ini, KRI Banda Aceh-593 berperan sebagai kapal permukaan pengawal konvoi yang harus mendeteksi dan menetralisir ancaman kapal selam musuh. Latihan dirancang untuk menguji prosedur deteksi, manuver evasif, serta koordinasi antarunsur tempur permukaan dan udara. Seluruh rangkaian kegiatan direkam secara rinci untuk bahan evaluasi taktik anti kapal selam di kemudian hari. Latihan ini menekankan integrasi multiunsur antara unsur permukaan, udara, dan pusat operasi taktis, yang menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman bawah air.

Fase Deteksi dan Formasi Diamond: Mengunci Pergerakan Kapal Selam

Latihan dimulai dengan fase deteksi menggunakan sistem sonar aktif dan pasif. KRI Banda Aceh-593 mengandalkan sistem TACTAS (Towed Array Tactical Sonar) yang ditarik di belakang kapal untuk mendeteksi keberadaan kapal selam pada jarak jauh. Setelah kontak sonar diperoleh, kedua kapal — KRI Banda Aceh-593 dan kapal AL Australia — segera melaksanakan manuver evasif dengan membentuk formasi diamond. Formasi ini bertujuan untuk mempersempit area target dan mempersulit pergerakan kapal selam musuh. Berikut rincian tahapan pada fase ini:

  • Pengaktifan sonar aktif untuk memperkuat data kontak dari sonar pasif.
  • Identifikasi kontak: kapal selam atau objek netral berdasarkan karakteristik akustik.
  • Pembentukan formasi diamond: dua kapal mengambil posisi diagonal untuk mengapit area target.
  • Manuver kecepatan dan arah secara simultan untuk menjaga tekanan terhadap kontak.

Formasi diamond ini terbukti efektif mempersempit ruang gerak musuh, dengan tekanan konstan dari kedua kapal yang bergerak sinkron. Setiap perubahan arah atau kecepatan kapal selam akan langsung terdeteksi oleh sonar, memungkinkan respons cepat dari unsur permukaan. Manuver ini memanfaatkan prinsip dasar taktis: semakin sempit area pergerakan musuh, semakin besar peluang untuk menghabisi atau memaksanya muncul ke permukaan.

Operasi Helikopter dan Koordinasi Taktis: Serangan dari Udara

Setelah posisi kapal selam terperangkap dalam formasi diamond, langkah selanjutnya adalah peluncuran helikopter AS565 Panther dari geladak KRI Banda Aceh-593. Helikopter ini membawa sonobuoy dan torpedo latihan untuk mendeteksi dan menyerang sasaran bawah air. Prosedur penanganan kontak kapal selam memerlukan koordinasi ketat antara pusat operasi taktis di kapal (Tactical Operations Center) dan komandan satgas. Helikopter bertugas menjatuhkan sonobuoy di beberapa titik untuk memperoleh data kontak yang lebih presisi, kemudian melaksanakan serangan tiruan dengan torpedo latihan. Tahapan koordinasi mencakup:

  • Komunikasi data sonar dari kapal ke helikopter melalui data link taktis.
  • Penentuan titik drop sonobuoy berdasarkan informasi kontak terkini.
  • Eksekusi serangan torpedo latihan setelah posisi kapal selam dipastikan.
  • Evaluasi hasil serangan melalui rekaman data sonobuoy dan sensor helikopter.

Seluruh latihan berlangsung dalam koordinasi erat antara unsur permukaan, udara, dan personel pusat operasi taktis di KRI Banda Aceh-593. Pelajaran taktis yang dapat dipetik dari latihan ini adalah pentingnya integrasi multiunsur dan respons cepat dalam operasi anti kapal selam. Formasi diamond dan penggunaan helikopter sebagai multiplier kekuatan menunjukkan bahwa manuver yang terencana dan sinkronisasi antarunsur tempur mampu meningkatkan efektivitas deteksi serta penetralan ancaman bawah air. Bagi TNI AL, latihan bersama AL Australia ini menjadi ajang validasi doktrin AKS sekaligus memperkuat interoperabilitas di kawasan.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL, Angkatan Laut Australia
Lokasi: Selat Sunda