Latihan gabungan antara Kopassus dan Denjaka di gedung bertingkat Jakarta menjadi ajang pengujian prosedur Anti Teror yang mengedepankan Penetrasi Vertikal dan formasi ruang sempit. Operasi yang menyimulasikan penyanderaan di lantai 12 ini dirancang untuk mengasah koordinasi antarpasukan dalam lingkungan vertikal yang rawan titik buta. Dengan puluhan sandera sebagai target, setiap langkah taktis—mulai dari pengintaian hingga evakuasi—harus dieksekusi presisi tanpa celah bagi musuh.
Tahap Pengintaian dan Pembagian Sektor
Langkah pertama adalah pengintaian taktis menggunakan drone untuk memetakan titik buta gedung. Data visual dari udara kemudian dipadukan dengan denah struktural untuk membagi lantai 12 menjadi sektor-sektor yang jelas. Untuk memastikan cakupan amunisi dan jalur gerak, pasukan dibagi menjadi dua kelompok utama:
- Kelompok Pendobrak: Bertugas membuka jalur masuk melalui tangga darurat dengan teknik breaching dan flashbang untuk menciptakan kejutan psikologis.
- Kelompok Penembak Jitu: Ditempatkan di gedung seberang untuk mengamankan jendela dan menetralisir ancaman dari luar yang mungkin mengganggu evakuasi.
Pembagian ini memungkinkan setiap personel fokus pada tugas spesifik tanpa tumpang tindih. Komunikasi terenkripsi antarunit menjadi tulang punggung koordinasi, memastikan setiap langkah diinformasikan secara real-time.
Prosedur Penyerbuan dan Formasi Stack
Setelah pintu pendobrak terbuka, kelompok penyerbu masuk dengan formasi diamond untuk mengamankan setiap sudut ruangan. Namun, tantangan terbesar ada di koridor sempit yang membatasi pergerakan. Di sinilah Formasi Stack diterapkan—satu penembak di depan mengarahkan laras ke sasaran fokus, diikuti oleh pengaman belakang yang menjaga sektor belakang. Setiap prajurit bertanggung jawab pada sektor 60 derajat dan terus bergerak maju untuk mencegah musuh mengambil inisiatif.
Teknik flashbang dan breaching tidak hanya membuka jalur, tetapi juga memecah konsentrasi musuh selama beberapa detik kritis. Setelah ruangan dikuasai, sandera dievakuasi melalui jalur yang telah ditentukan, sementara tim medis memberikan perawatan awal di titik kumpul. Latihan diakhiri dengan debriefing yang mengungkap kelemahan koordinasi antarunit dan perbaikan prosedur untuk operasi sesungguhnya.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik: kombinasi Penetrasi Vertikal dan Formasi Stack sangat efektif untuk mengatasi gedung bertingkat dengan koridor sempit. Namun, keberhasilannya bergantung pada sinkronisasi komunikasi dan disiplin sektor yang ketat. Tanpa itu, celah sekecil apapun bisa dimanfaatkan musuh untuk membalikkan situasi.