Satuan Tugas Komando Operasi TNI Habema melaksanakan operasi pencarian dan pemukulan terhadap kelompok TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Derakma di Kabupaten Nduga, Papua. Prosedur dimulai dengan pengumpulan data intelijen yang akurat untuk memetakan posisi dan kekuatan musuh. Selanjutnya, dilakukan infiltrasi pasukan ke dalam kawasan hutan dengan formasi tempur yang disesuaikan medan berat — formasi bounding overwatch dan fire team wedge digunakan untuk meminimalkan risiko saat bergerak di vegetasi rapat.
Tahapan Awal: Intelijen dan Infiltrasi
Langkah pertama dalam operasi ini adalah pengintaian mendalam (reconnaissance) terhadap pergerakan TPNPB. Berdasarkan hasil intelijen, pasukan TNI menyusun rencana penyisiran (sweeping) dengan rute yang memanfaatkan kontur bukit dan aliran sungai sebagai perlindungan alami. Infiltrasi dilakukan pada dini hari untuk memanfaatkan faktor kejutan. Setiap regu dilengkapi dengan peralatan komunikasi tertutup dan senjata utama berupa SS2-V4 A1 serta senapan mesin ringan untuk dukungan tembakan. Formasi tempur yang diterapkan adalah:
- Formasi garis (line formation) — digunakan saat melintasi area terbuka untuk memaksimalkan daya tembak ke depan.
- Formasi berlian (diamond formation) — diterapkan di medan semak untuk perlindungan 360 derajat.
- Gerakan maju bertahap (leapfrogging) — unit bergerak secara bergantian untuk memastikan satu kelompok tetap memberikan pengamanan.
Seluruh tahapan ini dikoordinasikan dengan markas komando untuk memantau perkembangan dan menyesuaikan manuver sesuai medan.
Respons Taktis Saat Kontak Senjata
Ketika pasukan TNI melakukan manuver pendekatan ke lokasi yang dicurigai, mereka dihujani tembakan dari posisi tersembunyi kelompok bersenjata. Kontak senjata terjadi secara tiba-tiba, memaksa pasukan untuk segera mengambil posisi bertahan (immediate defensive position) di balik pepohonan dan batuan besar. Dalam hitungan detik, komandan peleton memberikan perintah balas tembakan secara terarah untuk menekan musuh. Langkah taktis utama yang diterapkan adalah serangan balik (counter-attack) terkoordinasi yang bertujuan memecah konsentrasi dan daya tembak lawan. Teknik penguasaan medan (area domination) dilakukan melalui:
- Gerakan menjepit (pincer movement) — dua regu bergerak dari sayap kiri dan kanan untuk mengepung posisi musuh.
- Penggunaan tembakan pendukung dari senapan mesin ringan — untuk menekan titik perlawanan utama.
- Manuver tembak-lari (fire-and-maneuver) — satu regu memberikan tembakan sementara regu lain maju mempersempit jarak.
Hasil dari manuver ini berhasil memukul mundur kelompok TPNPB-OPM menjauh dari permukiman warga. Setelah musuh mundur, pasukan TNI melanjutkan ke tahap pembersihan (clearing) area untuk memastikan tidak ada penyusup yang tersisa, sekaligus mengamankan perimeter dengan perimeter defense yang ketat.
Operasi ini mengedepankan prinsip kecepatan, ketepatan sasaran, dan minimisasi risiko bagi pasukan sendiri serta masyarakat sipil di sekitarnya. Setiap pergerakan dilakukan dengan perhitungan taktis yang matang, termasuk pemilihan jalur aman dan penggunaan cover alami. Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah pentingnya koordinasi intelijen yang presisi untuk menghindari kontak yang tidak perlu, serta efektivitas serangan balik dengan pola pincer untuk membubarkan konsentrasi musuh. Kombinasi antara infiltrasi diam-diam dan respons agresif saat kontak senjata merupakan kunci keberhasilan dalam operasi penumpasan TPNPB di medan berat Papua.