Integrasi rudal C-705 pada KRI tidak sekadar tempel dan tembak; ia menuntut prosedur kalibrasi dan uji tembak yang ketat guna memastikan sistem persenjataan berfungsi optimal di medan operasi. Tahap pertama dimulai dari instalasi fisik peluncur di dek belakang kapal. Tim teknis memeriksa kompatibilitas sistem kabel, konsumsi daya, serta dudukan peluncur untuk memastikan tidak ada celah yang dapat mengganggu stabilitas saat penembakan. Setelah terpasang, dilakukan uji continuity selama 48 jam untuk mendeteksi potensi korsleting yang bisa memicu kegagalan sistem di saat kritis.
Tahap Kalibrasi: Menjamin Akurasi Sistem Senjata
Setelah instalasi peluncur selesai, langkah kunci berikutnya adalah kalibrasi radar dan fire control system. Kalibrasi radar meliputi penentuan parameter pelacakan permukaan laut, sehingga rudal dapat mengunci target pada jarak optimal. Rudal kemudian dihubungkan ke fire control system melalui lintasan data dua arah untuk memungkinkan koreksi ketinggian dan arah secara real-time. Operator di ruang perang menjalankan simulasi penembakan dengan target maya untuk menguji ketepatan logika tembak. Hasil simulasi menunjukkan pola kuncian yang stabil dalam jarak 60 kilometer, menandakan sistem pendeteksi tembakan dan avionik telah terkalibrasi dengan baik oleh tenaga ahli.
Proses kalibrasi sistem secara rinci meliputi:
- Uji continuity kabel dan konektor selama 48 jam untuk memastikan tidak ada korsleting.
- Penentuan parameter radar untuk pelacakan permukaan laut hingga jarak 60 km.
- Sinkronisasi lintasan data dua arah antara rudal dan fire control system.
- Simulasi penembakan dengan target maya untuk memvalidasi logika tembak dan pola kuncian.
Uji Tembak Sesungguhnya: Verifikasi Kinerja di Laut Lepas
Setelah kalibrasi dinyatakan lulus, uji tembak sesungguhnya dilakukan di perairan laut dalam dengan target berupa kapal bekas. Sebelum penembakan, jalur laut disterilkan dari aktivitas pelayaran hingga radius 10 kilometer demi keselamatan dan akurasi data. Rudal C-705 diluncurkan dalam mode salvo tunggal untuk mengukur kecepatan, akurasi, serta respons sistem terhadap kondisi lapangan. Tim evaluasi mengamati kelengkungan lintasan dan waktu terbang sebagai data acuan peningkatan sistem selanjutnya. Hasil uji tembak ini menjadi parameter penting untuk memastikan rudal C-705 siap dioperasikan dalam skenario pertempuran sesungguhnya.
Pelajaran taktis yang dapat diambil dari proses ini adalah pentingnya integrasi sistem yang terukur: kalibrasi radar yang akurat dan simulasi komprehensif sebelum uji tembak nyata dapat meminimalkan risiko kegagalan di medan operasi. Dengan prosedur seperti ini, KRI yang dipersenjatai rudal C-705 memiliki keandalan tinggi dalam melaksanakan misi pertahanan laut.